Bosan! sungguh aku bosan, bahkan enggan sebenarnya untuk membahas satu topik yang sudah sangat ramai dibicarakan orang ini, tentang rokok. Melihat berbagai respon dari permasalahan ini, apakah dengan kita melarang merokok,edukasi bahaya rokok, menghujat para perokok, bahkan sampai demo dan kampanye anti rokok pun, toh perusahaan rokok dan jenis rokok sampai peredaran nya tetap menjamur, berkembang, dan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pengendalian Dampak Produk Tembakau hingga saat ini tak pernah disahkan, lalu apa guna nya?

Skeptis memang. Namun sampai kapan? Sampai kapan karena kita bosan kemudian menjadi diam? Akan tetap diam saat kau tahu bahwa prevalensi remaja (15-19 tahun) perokok terus meningkat, lebih dari 2 kali lipat? Bahkan 20,3 persen pelajar SMP sudah merokok berdasarkan survey dari Global Youth Tobacco Survey. Miris, padahal merekalah yang sering kita gelari tunas masa depan bangsa. Atau coba kau lihat juga kondisi bangsa ini kawan, dari sekitar 240 juta jiwa penduduk di Indonesia, 65 juta merupakan pecandu rokok, dan yang membuat lebih prihatin adalah, dari data tersebut 500 ribu pecandu ternyata masih anak-anak.

Kemudian berbicara tentang perokok pasif, sekitar 92 persen para perokok merokok di rumah, sehingga menciptakan perokok pasif yakni 65 juta perempuan dan 43 juta anak-anak dalam usia 0-14 tahun. Setelah itu, ketika kita berbicara tentang kematian, kematian akibat rokok sudah mencapai angka 400 ribu.

Melihat angka-angka tadi mengingatkan ku pada seorang pasien yang sempat kukunjungi rumahnya ketika aku sedang bertugas di salah satu Puskesmas di Bandung. Seorang bayi tepatnya, yang kukunjungi karena mengalami gangguang pernafasan berat. Rumah keluarga tersebut sangat sederhana, sangat kecil dengan satu ruangan untuk melakukan berbagai aktifitas yang dihuni oleh 5 orang. Aku cukup dibuat kaget ketika mendengar penjelasan bahwa 3 dari 5 orang penghuni rumah tadi sering merokok di dalam rumah itu padahal ada seorang anak bayi disana. Bayangkan ruangan sekecil itu, dengan asap rokok yang menyesaki seisi ruangan. Prihatin, itu yang kurasakan. Setelah kuberikan obat dan disarankan untuk kontrol ke Puskesmas aku pamit dari rumah itu. Hari itu menjadi hari terakhirku mengunjungi rumah pasien tersebut, karena waktu bertugasku di puskesmas tersebut sudah habis dan harus kembali bertugas ke Rumah Sakit untuk kedepan nya. Seminggu kemudian, aku mendapat pesan masuk di handphone ku, dari ayah bayi tersebut. Tersentak, berita duka yang kudapat, bayi tersebut akhirnya meninggal karena penyakit pernafasan yang dideritanya. Sedih sekaligus miris memang.

Bisa kubilang rokok ibarat mesin pembunuh. Di dunia diperkirakan jumlah kematian itu dapat meningkat menjadi 5,4 juta kematian per tahun atau 1 kematian tiap 6,5 detik. Lebih banyak jika dibandingkan jumlah kematian akibat kecelakaan lalu lintas aku pikir.

Lebih dari 80 persen perokok ada di negara sedang berkembang seperti Indonesia memang. Namun tetap bagiku ini tak dapat terus dibiarkan. Penyumbang rokok terbesar adalah dari Asia, dan tertinggi adalah di Indonesia. Apakah ini menjadi kebanggaan? Prevalensi perokok di Indonesia masih cukup besar, sekitar 34,7 persen. Dan sungguh memprihatinkan, perlu juga untuk kau tahu kawan, bahwa 70 persen dari perokok aktif ini adalah orang miskin dan 71 persen keluarga di Indonesia memiliki pengeluaran untuk rokok.

Entah, sampai saat ini aku heran, apa menariknya barang satu ini yang kita kenal dengan sebutan rokok. Padahal waktu engkau menghisap rokok, sejatinya kau menghisap sekitar 4000 bahan kimia termasuk beberapa racun yang kita kenal seperti penghapus cat (acetone, napthylamine), bahan bakar roket (methanol, pyrene, dimethylnitrosamine), kapur barus (naphthalene), accu mobil (cadmium), gas beracun yang keluar dari knalpot (carbon monoxide, benzopyrene), bahan plastic PVC (vynil chloride), racun yang digunakan untuk hukuman mati (hydrogen cyanide, toluidine), pembersih lantai (ammonia, urethane), pelarut industri (toluene), racun semut putih (arsenic, dibenzacridine, phenol), bahan bakar korek api (butane, polonium-210), hingga racun yang paling berbahaya nikotin, TAR, dan karbon monoksida. Luar biasa bukan kandungan nya? Apakah yang menghisapnya juga berhak kita bilang luar biasa?

Aku yakin benar, jika bicara tentang dampak kesehatan yang ditimbulkan setiap kita pasti tahu, toh di bungkus rokok, iklan televisi maupun reklame-reklame tentang rokok selalu dicantumkan bahwa merokok dapat menyebabkan kanker, stroke, gangguan pernafasan, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Kurang lengkap sebenarnya, bagiku masih banyak yang bisa ditambahkan, namun jika aku paparkan disini beserta alasan mengapa penyakit itu muncul, bisa jadi tulisanku ini menjadi makalah kedokteran.

Banyak mitos yang sering dijadikan pembenaran, alasan yang membuat banyak perokok hingga kini bertahan. Katanya merokok menenangkan pikiran dan meningkatkan daya konsentrasi? Asal kau tahu kawan, perokok pemula itu merasa mual, pusing, batuk dan mulut tak enak. Jika kau tak percaya silahkan tanyakan, asal jangan kau praktikkan. Pengaruh nikotin yang akhirnya membuat kecanduan. Jika sudah kecanduan, pecandu rokok jadi gelisah, berkeringat dingin, dan sakit perut bila tidak merokok. Saat menghisap rokok dan nikotin menyentuh otaknya lagi, pecandu baru akan merasa tenang dan bisa berkonsentrasi lagi, itu faktanya.

Katanya juga, polusi udara oleh asap mobil lebih berbahaya dari asap rokok? Begini kawan, cobalah berpikir, bahwa asap knalpot mobil itu menyebar di udara terbuka, sementara asap rokok sepenuhnya masuk ke paru-paru perokok dan orang di dekatnya. Ada 4000 bahan kimia di asap rokok, 69 diantaranya karsinogenik, sedangkan zat racun seperti nikotin, arsen, dan ammonia tak ada di asap mobil.

Banyak juga pernyataan pintar yang dilontarkan, seolah rokok memberikan sumbangsih untuk bangsa. Benarkah industri rokok telah berjasa terhadap pendapatan negara melalui cukai rokok? Jangan sampai salah kawan, yang membayar cukai rokok adalah konsumen atau perokok, bukan industri rokok. Lalu benarkah katanya industri rokok memberikan sumbangan besar pada penerimaan pemerintah? Kenyataan nya, hanya sekitar 40 triliun hingga Rp 50 triliun yang dihasilakan, atau hanya 7-10 persen dari APBN saja, jauh dibawah penerimaan dari Pajak Bumi dan Bangunan maupun Pajak Penghasilan.

Kemudian jika konsumsi rokok dikendalikan pemerintah dengan menaikkan cukai nya, bukankah itu akan mengurangi pendapatan negara dari cukai rokok itu sendiri? Sadarilah kawan, bila cukai dinaikkan, penerimaan pun justru akan naik karena rokok itu produk in-elastis dan adiktif, akan terus dibeli bila harganya terjangkau. Bila harganya tinggi, pendapatan cukai naik dan penduduk miskin mengurangi konsumsi. Jika cukai rokok naik 10 % saja, volume penjualan akan berkurang 0,9-3%, dan penerimaan cukai akan bertambah sekitar 29-59 triliun. Berkurangnya konsumsi rokok pun tentunya akan mengurangi pengeluaran negara dan rakyat untuk mengobati penyakit akibat rokok. Pada tahun 2005 kita bisa melihat bahwa penerimaan negara dari cukai sebesar 32,6 triliun, sementara pengeluaran akibat penyakitnya sebesar 167 triliun.

Lalu apakah benar pengendalian tembakau akan menghilangkan kerja di pertanian tembakau dan industri rokok juga akan mematikan petani tembakau? Setahuku peringkat industri dan pertanian tembakau tahun 2003 diantara 66 sektor hanya menempati peringkat 30-an. Bila kebutuhan industri rokok akan tembakau berkurang, yang terkena dampaknya adalah importir tembakau. Indonesia mengimpor tembakau dari banyak negara seperti Amerika, China dan Singapura. Data Ditjen Pertanian 2005 menunjukkan bahwa nilai impor tembakau lebih besar dari nilai ekspornya, negara merugi sekitar 35 juta dolar pertahun nya.

Pertanyaan yang seolah konyol pun terkadang muncul, bukankah dengan menaikkan harga rokok akan membebani penduduk miskin? Justru perilaku merokolah yang membuat orang miskin terperangkap dalam kemiskinan. Peningkatan harga rokok akan mengalihkan uangnya untuk membeli hal lain yang lebih berguna bagi anak dan keluarganya. Jika mau dipetakan, kebutuhan masyarakat Indonesia adalah 72 persen kebutuhan pokok atau beras; 11,5 persen rokok; 11 persen ikan, daging, susu, dan sejenisnya; pendidikan 3,2 persen; dan kesehatan 2,3 persen. Artinya, ikan, daging, susu, pendidikan, dan kesehatan masih kalah penting daripada rokok.

Agama yang kemudian dijadikan benteng terakhir. Ditengah masyarakat kita telah tersebar dan terbentuk opini bahwa hukum rokok adalah makruh. Keyakinan ini membuat para perokok seakan mendapat jastifikasi dari agama bahwa merokok diperbolehkan oleh islam, bukan haram. Tapi cobalah tengok dan kembali telaah sebagian negara yang para ulamanya telah memberi fatwa dengan terang-terangan bahwa rokok adalah haram, seperti di Malaysia, Brunei, dan kebanyakan negara Timur Tengah. Walaupun memang, di negara-negara tersebut juga masih banyak dijumpai para perokok.

Secara tekstual di Qur’an memang tak ada ayat yang menyatakan hukum tentang merokok, akan tetapi, kita harus tahu bahwa tidak semuanya disebutkan satu per satu namanya di dalam Al-Qur’an. Allah adakalanya menyebutkan sesuatu dengan namanya namun adakalanya hanya menyebutkan sesuatu dengan sifatnya. Adapun rokok maka termasuk yang disebut oleh Allah dengan sifatnya. Andaikan semuanya yang halal dan haram harus disebut namanya, maka berapa jilid kah diperlukan untuk menyebutkannnya? Ini lah hikmah Al-Qur’an, sehingga kitab Al-Qur’an tetap simpel dan tipis tetapi mencakup seluruh problematika manusia. Dengan ukuran yang kecil dan tipis ini maka Al-Qur’an mudah untuk dipelajari.
Bagiku, rokok adalah sesuatu yang buruk dan sama sekali bukanlah sesuatu yang baik. Dan setahuku agama Islam mengharamkan segala yang buruk. Seperti firman Allah swt:

“…Dan (Rosul) itu menghalalkan yang baik-baik dan mengharamkan segala yang buruk …”.
(QS. Al-A’rof : 157).

Siapa pun yang berakal dan mau jujur, jika ditanyakan apakah rokok termasuk sesuatu yang baik atau tidak, pasti mereka menjawab: “Tidak, bahkan rokok adalah sesuatu yang buruk.” Buruknya rokok juga bisa dilihat dari adanya larangan merokok di sana-sini, seperti di tempat umum, gedung-gedung pertemuan, masjid-masjid, sekolahan apalagi di tempat-tempat yang harus terbebas dari sesuatu yang mengganggu seperti rumah sakit. Atau cobalah kita lihat, dari sekian banyak perokok yang ada, nampaknya tidak satu pun dari perokok yang mengajari anak-anaknya agar pandai merokok seperti dirinya, bahkan mungkin melarang anaknya untuk merokok karena tahu dampak buruk yang mungkin bisa ditimbulkannya. Bahkan keburukan rokok terbukti dengan pernyataan pabrik rokok sendiri yang menyatatakan dalam iklan maupun bungkus rokoknya dengan tulisan “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin”. Lalu apakah para perokok menutup mata atau pura-pura buta dengan membeli sesuatu yang jelas-jelas disepakati tentang bahayanya? Lucu bukan? Menurutku manfaat rokok hanyalah klaim dan pembelaan dari perokok belaka tanpa ditunjang dalil dan bukti.

Dalam kaidah fiqih disebutkan ”Mencegah kerusakan/bahaya lebih didahulukan daripada mengambil manfaat”. Maka seharusnya kita mendahulukan mecegah diri kita dari bahaya rokok dengan tidak merokok dari pada mengambil manfaat menkonsumsi rokok yang hanya isapan jempol belaka. Agama Islam pun melarang melakukan perbuatan yang membahayakan diri dan orang lain, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

”Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain.”
(HR. Baihaqi dan al-Hakim dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Adakah yang masih yakin bahwa rokok tidak membahayakan diri dan orang lain? Bukankah asap rokok pun juga membahayakan para perokok pasif?

Allah pun melarang pemborosan dan menyia-nyiakan harta, sebagaimana firman-Nya:

”… Dan janganlah kalian menghamburkan hartumu dengan boros, karena pemboros itu adalah saudaranya setan…” (AS. Al-Isro’: 26-27).

Orang yang merokok menurutku menghamburkan hartanya dengan sia-sia bahkan mereka rela membeli rokok padahal ada kebutuhan yang lebih penting dan bermanfaat. Di Indonesia, pengeluaran untuk rokok pada rumah tangga termiskin 5 kali lebih besar dari pengeluaran untuk telur & susu, serta 11 kali untuk daging.

"Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeming pada hari kiamat nanti sebelum ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang tubuhnya tubuhnya untuk apa dia gunakan, tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan kemana ia membelanjakannya, serta tentang ilmunya untuk apa dia gunakan.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi).

Apa jawaban seorang perokok bila ditanya di Hari Kiamat nanti tentang umurnya yang dihabiskan untuk menghisap rokok, ilmunya yang ia mengetahui rokok itu tidak baik, akan tetapi masih terus menerus menghisapnya, hartanya yang dia hamburkan untuk sesuatu yang tidak berguna dan tubuhnya yang ia telah persembahkan kepada bahaya dan penyakit?

Mungkin akan ada yang berkata bahwa bukankah merokok sudah menjadi kebiasaan sebagian besar manusia? Sadari benar bahwa kebiasaan yang berjalan ditengah masyarakat bukan dalil untuk membolehkan kebiasaan tersebut, karena banyak sekali hal-hal yang haram telah menjadi kebiasaan yang berjalan di tengah masyarakat, seperti tersebarnya riba, minuman keras, zina, kebiasaan mempertontonkan aurat, menggunjing sesama muslim dan lain sebagainya. Apakah ini juga akan kita diamkan?

Untuk sebagian orang, mungkin ada yang mengatakan bahwa dirinya sudah bertahun-tahun bergaul dengan rokok sehingga tidak mungkin dapat dipisahkan antara dirinya dengan rokok yang telah menjadi teman setia dalam hidupnya. Tapi sadarkah kita bahwa ini semua dapat dilakukan jika pelakunya mempunyai niatan ikhlas karena Allah swt? Buktinya ketika berpuasa di siang hari mereka mampu meninggalkan rokok bukan? Oleh karena itu, tinggalkan rokok hanya karena Allah bukan karena yang lain.

Terkadang muncul juga pernyataan konyol, bahwa katanya rokok adalah simbol kejantanan sejati, menurut mereka laki-laki tidak lengkap kalau tidak menghisap rokok. Sungguh sangat keliru menurutku, yang pertama, apakah benar orang yang melanggar larangan Allah adalah orang yang jantan? Selanjutnya, dari segi kedokteran bukankah jelas peringatan bahwa merokok bisa menimbulkan impotensi, disfungsi ereksi, infertilitas pria? Masih cocok kah dibilang jantan?

Terkadang juga muncul pernyataan dengan sikap fanatiknya: ”Guru dan kyai saya juga merokok, bahkan dokter juga ada yang merokok.” Kalau sudah jelas dalil bahwa rokok itu tidak baik dan sudah banyak kenyataan bahwa rokok berbahaya, maka wajib bagi kita mengikuti dalil, bukan mengikuti manusia walaupun dia adalah seorang guru, kyai, maupun dokter karena semua manusia pasti pernah dan bisa bersalah dan keliru karena mereka tidak ma’shum (terjaga dari kesalahan) bukan??

Ada juga yang dengan yakin nya berkata, “mereka yang merokok toh bisa berumur panjang dan sehat tidak merasakan bahaya merokok??” Ya kalaupun rokok memang belum membahayakan jiwa mereka, bagiku setidaknya rokok telah membahayakan harta mereka, akhlak mereka, agama dan masyarakat mereka. Jika engkau yakin dengan pernyataan tadi, aku ingin balik bertanya, apakah kau rela bila anak-anak mu merokok? Kan umur ditangan Allah dan toh ada juga perokok yang umurnya panjang??

Pil pahit yang harus ditelan kita sebagai umat Islam jika kita membiarkan fenomena rokok ini terus berkembang. Perlu kita tahu bahwa jumlah total penduduk dunia berkisar sekitar 6.5 Milyar, total Muslim dunia sekitar 1.3 Milyar, dan total perokok di dunia sekitar 1.15 Milyar. Dan tahukah kita bahwa total Muslim yang merokok tidak kurang dari 400 juta orang dan 140 juta orang adalah kaum Muslimin di Indonesia? Dan perlu kita ketahui bersama juga, bahwa produser rokok terbesar di dunia adalah Phillip Morris. Donasi Phillip Morris kepada Israel adalah 12% dari profit yang mereka raih. Jika saja kaum Muslimin yang merokok menghabiskan satu bungkus/hari, berarti mereka membakar 400 juta bungkus rokok/hari. Jika saja harga rokok rata-rata $ 1.00/bungkus, berarti konsumsi mereka untuk rokok $ 400 juta/hari. Jika 50% kaum Muslimin yang merokok itu membeli produk Philip Morris, berarti mereka menghisap 200 juta bungkus rokok produk Philip Morris/hari. Sehingga total dana kaum Muslim yang masuk ke Morris sekitar $200 juta/hari. Dengan rata-rata keuntungan rokok produk Philip Morris : 10% /bungkus, berarti profit Philip Morris dari belanja rokok kaum Muslimin $ 20 juta/hari. Dengan demikian, kamu Muslim yang merokok menyumbang ke Israel $ 2.4 juta/hari dan $ 28.8 juta/tahun atau $ 288 juta/10 tahun. Sungguh kenyataan yang sangat pahit.

Bayangkan, mereka membakar uang sebanyak $ 400 juta/hari, sambil merusak diri sendiri (kesehatan sendiri) serta menyumbang pula ke Israel. Padahal menurut para Mujahidin Palestina, untuk memerdekakan Palestina dan Masjid Aqsha dari penjajahan bangsa yahudi diperlukan dana $ 500 juta/tahun. Sedangkan mereka menghabiskan untuk belanja rokok saja $ 400 juta/hari, atau sekitar $ 4.8 Milyar / tahun? Apakah ini perbuatan yang bisa diterima akal sehat? Apakah perbuatan ini tidak akan memancing murka Allah?

Lebih baik dana yang dihabiskan untuk merokok ini digunakan kepada hal-hal yang bermanfaat lainnya; di antaranya tabungan untuk menunaikan ibadah haji misalnya. Jika kita menabung setiap hari senilai satu bungkus rokok, atau sekitar Rp 10.000 maka uang akan terkumpul sebanyak Rp 300.000/bulan, atau sekitar Rp 3.6 juta pertahun. Dalam sepuluh tahun mungkin akan mampu menunaikan ibadah Haji. Jika berhenti merokok selam 30 tahun, berarti mampu berangkat haji dan dengan dua orang anggota keluarga yang lain.

Janganlah dengan sengaja setiap hari nya membakar sebagian rezeki yang Allah berikan itu dan digunakan untuk merusak diri sendiri, dan orang-orang lain di sekitar kita. Lebih miris lagi, secara tidak sadar menyumbang kepada Israel yang sedang mencaplok dan setiap hari membunuh saudara-saudara kitadi Palestina.

Bagaimanapun juga, sebosan apapun kita, permasalahan seperti ini tetap harus jadi salah satu aspek yang kita perjuangkan. Komplikasi dari permasalahan ini akan terus bertambah jika pemerintah tidak segera membuat kebijakan tegas untuk mengatur peredaran rokok di Indonesia. Di UU Kesehatan, pasal 113 sebenarnya telah diatur mengenai pengamanan penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif dan pasal 114 tentang peringatan kesehatan dan pasal 115 mengenai kawasan tanpa rokok. Namun peraturan pemerintah pendukungnya yaitu RPP Pengendalian Dampak Produk Tembakau yang telah dibahas sejak munculnya UU tersebut hingga kini belum juga disahkan oleh Presiden.

Tanpa harus menunggu itu, hal yang bisa dilakukan oleh setiap kita secara individu dalam mengurangi dampak dari berbagai permasalahan tersebut adalah mencoba berhenti merokok bagi yang merokok, dan bantu orang lain untuk bisa berhenti merokok, apakah dengan tulisan seperti yang aku lakukan sekarang, dengan ajakan, atau selemah-lemahnya dengan doa.

Untuk engkau yang mulai berfikir untuk berhenti merokok, lakukanlah dan sungguh-sungguh dalam bertahan. Caranya bisa kau langsung berhenti seketika, menunda atau mengurangi jumlah rokok yang kau hisap hingga akhirnya bisa berhenti sama sekali. Secara medis, kelak ketika kau mulai berhenti merokok, akan ada beberapa hal yang mungkin terjadi, seperti batuk, karena hal ini menandakan mekanisme pembersihan saluran pernafasan berfungsi kembali, sakit kepala yang terjadi karena tekanan darah kembali normal, mudah marah atau tersinggung, sampai mungkin sulit berkonsentrasi.

Tapi sadari benar banyak keuntungan yang bisa kau peloreh setelahnya. 6 jam pertama sesudah berhenti merokok, denyut nadi dan tekanan darah kembali normal. 12 jam setelah berhenti merokok, karbon monoksida meninggalkan sistem peredaran darah dan pernafasan. 1 hari setelah berhenti merokok, tekanan darah lebih rendah dan kegiatan jantung jauh lebih kuat. 1 tahun setelah berhenti merokok, resiko serangan jantung menurun sampai setengah dibandingkan dengan perokok aktif. 5 tahun setelah berhenti merokok, resiko stroke menurun sampai tingkat bukan perokok. 10 tahun setelah berhenti merokok, resiko kanker paru menurun sampai setengah dibandingkan dengan perokok aktif. Dan 15 tahun setelah berhenti merokok, resiko serangan jantung menurun sampai tingkat bukan perokok jika berhenti sebelum timbul penyakit.

Lalu, tunggu apalagi? Kau bisa berkontribusi untuk bangsa, salah satunya dengan cara ini kawan!

#make every day world no tobacco day

Dani Ferdian
Sebatas kajian pribadi singkat, Kamis malam, 31 mei 2012.
Semoga bisa menjadi jejak, dari usia yang ingin punya arti.

Mengingat Istiqamah dari IGD Bedah

Siapa yang akan menyangka, ibu berusia 50 tahunan ini tertabrak mobil saat akan menyebrang jalan, dan terseret dikolong mobil itu sampai sejauh 5 meter. Hilang kesadaran, cedera kepala berat, multiple fracture, dan spinal cord injury. Mungkin memang masih bisa diselamatkan, namun komplikasi lumpuh bisa jadi ancaman akibat cedera pada tulang belakang nya ini.

Juga siapa yang akan mengira, seorang bapak selepas mencari kayu bakar ini juga terhantam truk saat menyebrang jalan. Hilang kesadaran, cedera kepala berat, dan patah tulang panggul. Patah tulang panggul ini bisa mengakibatkan pendarahan dalam, kehilangan sekitar 2 sampai 3 liter darah dari total 5 liter darah yang mengalir di tubuhnya.

Seorang bapak usia 40 tahunan ini juga tak akan mengira, di siang bolong kepalanya dihantam batu oleh orang tak dikenal. Luka di kepala jelas jadi keluhan, lebih dari itu, multiple open fracture depressed pada tulang tengkorak nya menjadikan nya harus masuk ruang operasi untuk dilakukan pembedahan dan perbaikan pada tulang tengkorak nya.

Satu keluarga lain pun tak pernah mengira akan musibah yang di deritanya. Rumah nya yang beratap bambu ini habis terbakar akibat terjatuhnya lilin disaat terjadinya pemadaman listrik pada malam hari. Sayangnya tak hanya rumah yang terbakar, penghuni rumah pun ikut terbakar. Seorang ibu dan seorang anak yang coba ia selamatkan mengalami luka bakar hebat. Lebih dari 50 % tubuhnya habis terbakar, mulai dari kepala, muka, badan hingga tangan dan kaki mereka.

Seorang pekerja pun tak pernah mengira akan kecelakaan kerja yang ia alami. Jari manis nya tertimpa tabung oksigen besar saat ia hendak memindahkan tabung oksigen tersebut bersama rekan nya. Alhasil, jari manis tersebut remuk, habis. Ia harus kehilangan jari manis nya.

Seorang bapak 30 tahunan ini pun tak pernah mengira akan sebuah kejadian di malam itu, ketika ia membawa sepeda motor, melaju dengan kecepatan rendah saat melewati perlintasan kereta api. Disana, tiba-tiba seorang tak dikenal menghampiri, mengalungkan pisau pada lehernya, lalu menusuk bapak tersebut di beberapa bagian tubuhnya.

Atau seorang remaja yang juga tak pernah mengira bahwa ia akan terjatuh dari sepeda motor nya. Pengalaman nya bertahun-tahun membawa sepeda motor tak jadi jaminan bahwa ia tak akan pernah jatuh. Sekali nya jatuh, mengakibatkan kondisi parah pada remaja itu. Cedera kepala sedang, patah tulang hidung, dan robek nya bibir bagian atas, juga hidung nya. Bahkan kulit hidung nya sudah terlepas entah kemana saat ia terjatuh, ditambah lagi luka-luka di sekujur tubuh nya.

Itu hanya sekelumit kecil cerita dari pasien-pasien yang aku hadapi saat sedang dinas jaga di instalasi gawat darurat bedah sebuah rumah sakit. Banyak kejadian yang kita semua tak pernah mengira atau bahkan sekedar menduga sebelumnya, tentang musibah, ujian, yang bisa kapan saja dan menimpa siapa saja pada setiap makhluk Nya yang hidup di muka bumi ini.

Terkadang sesuatu yang berharga baru kita sadari setelah kita kehilangan, tentang kesehatan, kesadaran, penglihatan, badan, tangan, kaki, hidung, jari tangan, atau bahkan rasa yang kita miliki. Beryukur, jangan sampai kita lalai dan baru tersadar bahwa begitu banyak nikmat yang Allah berikan setelah kita kehilangan. Gunakan apa yang Ia berikan untuk kebaikan.

Allah dengan mudah mencabut sebagimana Ia begitu mudah memberi. Semua yang terjadi di setiap putaran hidup adalah kehendak Nya. Maka bersyukurlah, niscaya Allah tambahkan nikmat bagi setiap kita.

“Barangiapa mensyukuri nikmat-Ku, maka akan Ku tambahkan nikmat baginya. Dan barangsiapa kufur terhadap nikmatKu, sesungguhnya adzab-Ku amat pedih.” (Q.S. Ibrahim : 7)

Rahasia Allah bukan saja bicara tentang jodoh seperti yang ramai dibicarakan orang. Rahasia Allah juga tentang nikmat, musibah, berbagai ujian, hingga kematian. Semua kejadian adalah rahasia Nya, semua ada pada kehendak Nya. Tentang waktu, tak ada satupun yang tahu, bahkan mampu memprediksikan nya. Disinilah hakikatnya setiap kita harus totalitas dalam berjuang, harus menghadirkan syukur dan sabar dalam setiap kejadian, dan istiqamah jadi satu hal yang senantiasa membersamai keduanya.

Berbicara tentang musibah dan kematian, sudah siapkah setiap kita menghadapi nya sebagimana kita menghadapi nikmat yang Allah berikan? Apa yang terjadi jika cuplikan kisah diawal terjadi pada diri kita, ataupun keluarga kita, terlebih jika kisahnya berujung pada kematian??

Setiap kita pasti pernah melakukan kemaksiatan dan kesalahan, padahal kita tidak tahu kapankah nyawa kita dicabut. Tidak ada yang pernah tahu, sampai dibatas usia mana kita hidup.

Allah swt berfirman: “ Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Luqman: 34)

Oleh karena itu hendaklah kita berhati-hati jangan sampai nyawa kita dicabut saat kita sedang berlumur keburukan. Hendaklah kita segera bertaubat memohon ampunan kepada Allah swt, mengganti segala kemaksiatan ini dengan ibadah-ibadah yang diperintahkan oleh Allah, hingga kita meraih satu kemenangan husnul khatimah (akhir yang baik).

Ada harga yang harus dibayar untuk setiap pencapaian, begitupun untuk meraih kemenangan husnul khatimah, harus istiqamah dalam kebaikan. Istiqamah, pelaksanaan nya memang tak semudah ketika kita ucapkan. Namun, begitulah fitrah nya. Sebagaimana segala puncak prestasi harus teruji, begitupun menjadi ahli surga harus terbukti di dalam keistiqamahan hidup dalam menjalankan kebaikan. Sulit memang,namun ada beberapa hal yang menjadikan setiap kita mampu mempertahankan keistiqamahan dalam hidup, bahkan mampu meningkatkan kualitasnya.

Merasa diri selalu diawasi

Hadirkan perasaan akan kontrol ilahiah dan kedekatan diri kepada Allah. Hal ini diimplementasikan dengan mentaati seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya, serta memiliki rasa malu dan takut, apabila menjalankan hidup tidak sesuai dengan syariat-Nya.

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (al-Hadiid (57) : 4)

Rasulullah saw. bersabda-ketika ditanya tentang ihsan, “Kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan apabila kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat kamu.” (HR al-Bukhari)

Memiliki janji atau komitmen

Sadari benar dan hadirkan tekad dalam diri bahwa setiap kita memiliki komitmen dan janji untuk senantiasa berbenah, memperbaiki diri. Memiliki janji dengan manusia saja harus ditepati, bagaimana ketika kita berjanji dengan Tuhan kita bukan??

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (an-Nahl (16) : 91)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (al-Anfaal (8) : 27)

Evaluasi diri

Evaluasi diri, baik sebelum maupun sesudah melakukan perbuatan perlu dilakukan. Evaluasi diri menjadi salah satu jalan agar hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (al-Hasyr (59) : 18)

“Orang yang cerdas (kuat) adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk hari kematiannya. Adapun orang yang lemah adalah orang yang mengekor pada hawa nafsu dan berangan-angan pada Allah.” (HR. Ahmad)

Umar bin Khattab ra berkata, “Hisablah dirimu sebelum dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang ….”

Mari kita biasakan, menyediakan waktu setiap harinya, beberapa menit sebelum tidur, untuk mengevaluasi diri. Merefleksikan diri atas apa yang diperbuat seharian, memohon ampun atas mudharat yang dilakukan dari setiap perbuatan kita, dan mendoakan orang-orang yang mungkin hati nya tersakiti karena tingkah laku kita.

Memberi sanksi atas kelalaian

Menghadirkan efek jera dari setiap kelalaian yang kita perbuat. Belajar dari para sahabat Rasul, aku pernah mendengar sebuah riwayat bahwa Umar bin Khathab ra pergi ke kebunnya. Ketika ia pulang, maka didapatinya orang-orang sudah selesai melaksanakan Shalat Ashar. Maka beliau berkata, “Aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang-orang sudah shalat Ashar! Kini, aku menjadikan kebunku sedekah untuk orang-orang miskin”. Juga cerita tentang Abu Thalhah. Ketika Abu Thalhah sedang shalat, di depannya lewat seekor burung, lalu beliau pun melihatnya dan lalai dari shalatnya sehingga lupa sudah berapa rakaat beliau shalat. Karena kejadian tersebut, beliau mensedekahkan kebunnya untuk kepentingan orang-orang miskin, sebagai sanksi atas kelalaian dan ketidak khusyuannya.

Kadar kelalaian kita tentunya berbeda dengan para sahabat Rasul, begitupun kadar kemampuan kita dalam memberikan iqab (sanksi) terhadap kelalaian kita tersebut. Saat kita memberikan sanksi terhadap diri tentulah harus sesuai kapasitas nya masing-masing, dan sanksi yang diberikan pun tentunya bukan yang mendzalimi diri dan ada manfaat nya baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Totalitas

Totalitas, sungguh-sungguh, optimalisasi dalam beribadah dan mengimplementasikan seluruh nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan adalah keharusan. Totalitas, suatu keikhlasan yang mendalam akan seni peran yang sedang dan harus dijalani, keterlibatan yang penuh, hati yang tanpa batas untuk menyelesaikannya, tanpa pamrih, tanpa mengharapkan prasyarat apapun. Totalitas, pengabdian akan karya, bukan permintaan atas sesuatu hasil atau upah.

Totalitas membidani lahirnya konsistensi,tidak bersifat temporer, melainkan konsisten akan tujuan yang kita miliki, menjaga semangat, dan niat baik agar senantiasa konstan. Totalitas juga berbuah fokus, harus berpusat pada satu tujuan. konsekuensi lain dari totalitas ialah pengorbanan, kesadaran bahwa beberapa hal yang tidak lebih penting dan atau menjadi penghambat dari tujuan utama yang ingin dicapai haruslah dikorbankan. Skala prioritas menjadi sebuah tolak ukur yang sangat penting, karena seringkali terjadi pertentangan antara kebutuhan dan keinginan. Berbicara totalitas juga bicara tentang harmonisasi, harmonisasi dengan orang-orang di sekitar kita, karena sering kali totalitas kita akan suatu hal menjauhkan kita dengan beberapa orang di sekitar kita, atau tak jarang pula keputusan untuk memiliki totalitas dalam kehidupan mengakibatkan pertentangan dengan orang-orang.

"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syetan. Sungguh ia musuh yang nyata bagimu" (Q.S. Al Baqarah ayat 208)

Kaffah mempunyai arti keseluruhan atau totalitas. Islam adalah nafas setiap perbuatan dan kehidupan seorang muslim. Oleh karena itu, ayat di atas memiliki maksud: dalam setiap perbuatan, lakukanlah secara totalitas.

”Sesungguhnya Allah mencintai salah seorang dari kamu jika mengerjakan sesuatu dikerjakan dengan itqan (sungguh-sungguh).” (HR. Ath-Thabrani, Al-Haitsami dan As-Suyuthi).

Menjadikan diri ini istiqamah dalam kebaikan, tentunya harus diwarnai dengan kesungguhan, optimalisasi, totalitas.

Istiqamah, adalah kata kunci meraih kemenangan. Selama setiap kita istiqamah dalam kebaikan, ketika kelak Allah tutup usia kita di episode waktu manapun, kita akan meninggal dengan akhir yang baik (husnul khatimah). Namun, saat kita thughyan (menyimpangan atau melampaui batas), lawan dari istiqamah, saat Allah tutup usia kita disaat iman kita sedang kumuh, atau sedang berlaku maksiat, maka suul khatimah (akhir yang buruk) yang akan kita dapati.

Semoga Allah SWT menjadikan kita semua hamba-hamba-Nya yang senantiasa istiqamah, menjadi model-model muslim ideal yang dijanjikan surga-Nya kelak. Amin.

Dua Tiga Kontemplasi

Simbol kemenangan sang juara

Dua puluh tiga tahun plus sembilan bulan silam. Satu diantara kurang lebih dua ratus juta yang Allah takdirkan tuk diciptakan. Bertualang, sungguh-sungguh bertahan, untuk mencapai tujuan.Ingin sedikit aku ceritakan tentang perjalanan, bagaimana sebelum menjadi aku yang sekarang. Ini tentang proses pembuahan, proses awal manusia diciptakan, juga tentang kesungguhan, dan kemampuan bertahan untuk mencapai tujuan.

Begitu ditakdirkan untuk diciptakan, perjuangan dikobarkan. Mencari aliran lendir alami untuk membawa ke mulut rahim, kemudian berenang di dalam rahim sampai ke muara saluran telur. Dari sekitar 200 juta tak semua bertahan, hanya yang kuat yang masih mampu bertahan. Untuk sisa yang bertahan, mengambil keputusan menjadi tantangan. Umumnya hanya sebutir telur yang dihasilkan, tidak tentu saluran mana yang berisi telur matang itu. Maka soal saluran kiri atau kanan yang harus kuambil merupakan keputusan yang menentukan. Memilih saluran yang salah berarti menyia-nyiakan perjalanan. Energi yang kita miliki hanya cukup untuk menjelajah satu saluran.

Bersyukur aku berada pada pilihan yang benar. Kuat dan juga tepat mengambil keputusan yang membuat ku bertahan. Perjuangan belum padam, kini saatnya aku bersama sisa yang bertahan berenang melawan arus, karena sel-sel pada dinding saluran pelan-pelan mendorong telur menuju ke rahim. Dalam situasi ini, ada yang menjadi bingung dan mulai berenang berputar-putar tanpa tujuan. Bersyukur aku masih diprogram dengan baik sehingga tahu arah dan tujuan.

Akhirnya, aku dan kurang lebih 300 sisa yang bertahan dari 200 juta yang memperoleh takdir diciptakan berjumpa dengan telur yang sedang dalam perjalanan, hampir sampai ke garis finish. Sebesar apapun kegembiraan yang kita rasakan, kita masih harus menembus dinding telur. Aku dan kawan-kawan yang berkumpul di sekitar telur mulai membentur-benturkan diri ke kulit luar sel telur. Akhirnya, hanya SATU di antara 300 yang berhasil menembus dinding akan diterima untuk membuahi telur. Dan bersyukur, aku menjadi satu yang Allah takdirkan itu. :')

Menjadi yang terpilih adalah bukti kesungguhan, bukti kekuatan untuk bertahan, sampai akhirnya bisa mencapai tujuan. Ini bukan sekedar romantisme di tingkat sel, melainkan sebuah pemantik diri agar punya keistiqamahan dalam berjuang. Kembali pada fitrah seperti proses awal penciptaan, bahwa hidup sejatinya adalah totalitas dalam perjuangan, senantiasa berusaha menjadi yang terbaik dalam bertahan mencapai tujuan.

Buah cinta dan kasih sayang

Ketika dua insan berpadu menjadi satu. Ketika cinta menjadi pemersatu, dan kasih sayang menjadi yang membersamai.Hadirku menjadi buah cinta dan kasih sayang yang bersatu padu, dari dua insan yang menyatu.Menjadi katalisator cinta dan kasih sayang, juga melengkapi kebahagiaan, begitu lahirku.

Aku harap rasa ini masih membersamai dengan hadirku saat ini. Karena hadirku tak akan terlepas dari dua insan yang bersatu itu, Ibu dan Bapak. Bagaimanapun keadaanku, aku adalah bagian dari diri keduanya. Aku adalah buah cinta dan kasih sayang keduanya. Rahim ibu adalah tempat buaianku yang pertama di dunia ini. Air susunya menjadi sumber makanan yang menumbuhkan jasad. Kasih sayang ibu adalah ketenangan yang selalu aku rindukan. Kerelaan ibu untuk berjaga membuat nyenyak tidurku. Timangan Bapak dirasakan sebagai kekokohan. Perasan keringatnya memberikan rasa kenyang dan hangat bagi diri. Didikan nya, menghadirkan kekuatan hingga kini. Doa-doa yang mereka panjatkan menjadi sebab segala kebaikan yang didapatiku. Tak terhingga dengan hitungan jemari untuk merunut kembali segala kebaikan yang mereka curahkan untuk ku.

Izin dan kasih sayang mereka tak kan pernah putus untuk menopang semangat juang ku hingga kini. Tak ada yang lebih berarti dari ridhamu atas segala aktivitas yang aku lakukan. Karena tanpa ridhamu, mustahil kuperoleh ridhaNya. Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya, begitupun pertemuan dengan mu. Hingga tutup usia aku yakin takkan pernah bisa membalas jasamu. Bayaran jasamu hanya surga. Doakan aku menjadi anak shaleh, istiqamah menabung amal guna membawa Ibu-Bapak ke surga Nya kelak :')

Tentang tulang rusuk yang tak akan pernah tertukar

Bicara tentang hal ini aku yakin tak akan ada habisnya. 95% doa yang masuk sebelumnya semua ada unsur terkait ini, jodoh. Tak heran sebenarnya, sejak menginjak tahun kedua anak-anak memang sudah ramai membicarakan topik ini. Ketika aku tanyakan pada beberapa, mengapa mereka getol bicara tentang ini, alasan nya beragam.

"Supaya gk timbul fitnah dan, jadi pemimpin kan pasti banyak interaksi,termasuk sama cewek juga,hehe"

" Supaya ada yang nenangin pas lagi ada masalah atau nerima amanah gede dan, Rasul juga dulu waktu ketakutan nerima wahyu ada Khadijah yg nenangin, nyelimutin "

" Klo anak-anak ada masalah kan pasti jadi pikiran kamu, nah kamu ntar sharing ke siapa coba? apalagi klo yg punya masalahnya kamu, ibarat teko, kamu gk diisi sama masalah aja, tapi harus ada penyaluran nya juga"

" Biar gak nambah yang ngarepin kamu dan, dan biar sekarang yang pada ngarep jadi berhenti lagi berharap, haha "

" Biar gk galau lagi dan! hehe"

" Penasaran aja sih dan, wanita seperti apa yang bakal kamu pilih dari sekian banyak wanita yang ada di dunia "

" Ya seneng aja godain kamu sama hal kayak ginian, haha "

" Biar kayak Habibie dan, di setiap aktivitas kamu ada yg nemenin! "

" Dibalik pria hebat ada wanita hebat yg nemenin nya kan ya dan? Supaya kamu tambah besar, kan ntar manfaat nya kita juga yg ngerasain, he "

" Penasaran aja gwa, dari sekian banyak sinyal kenapa gk ada yang lo respon, mau yang kayak gimana sih dan? he "

" Ya pokoknya mah pengen ibu angkatan aja! "

" Penasaran aja, bertahun-tahun kok sendirian terus, he "

" Berlomba-lomba dalam kebaikan, menyempurnakan setengah agama. "

Begitulah kurang lebih nya, padahal beberapa alasan gak masuk akal aku pikir. Sejak tahun kedua saja isu-isu kayak gini sudah banyak dibicarakan, apalagi sekarang, melewati sarjana kedokteran, dan usia 23 tahun. Jadi wajar. Aku aminkan semuanya sebagai doa :)

Sempat ditanya, pernah jatuh cinta? Bagiku, aku tak ingin jatuh cinta. Mengapa? karena aku ingin membangun cinta, membangun bangunan yang tinggi untuk kelak mencapai surga Nya. Dengan siapa? Wallahu'alam. Kelak semoga Allah mempertemukan ku dengan ia yang selalu menghadirkan ku dalam doa nya, kelak semoga Allah mempertemukan dengan ia yang sungguh-sungguh, totalitas menjaga hatinya untuk ku :). Bukan dengan yang sempurna, bagiku cukup dengan orang yang 'tepat'. Ia yang taat pada Allah dan taat pada suaminya, ia yang selalu bersyukur dan merasa beruntung bersanding dengan berbagai kekurangan yang juga melekat dalam diri ini, untuk kemudian menjadi partner yang membangun, saling melengkapi.

Ah, galau kan jadinya. Bahasan ini lebih baik di-skip, kita sudahi. :). Kita yakini saja bahwa memang tulang rusuk itu tak akan pernah tertukar. Semua akan indah pada waktunya, jika tidak indah, bukan akhir berarti. Jodoh itu tidak bodoh, jadi tidak usah heboh untuk urusan ini bagiku :). Doakan saja agar segera menemukan yang tepat, dan diberi kemudahan serta kemampuan dalam menyempurnakan nya.

Kontribusi dan takdir sejarah

Besar harapku untuk menjadi pribadi yang menghidupkan kemanfaatan diri lebih panjang dari usia biologis yang ada kelak. Namun, merefleksikan diri di usia emas pemuda ini, nampak belum banyak yang bisa kulakukan dibanding cerita-cerita para pemuda lain yang kontribusi nya jauh lebih banyak meledakkan kemanfaatan. Ini menjadi pemantik bagiku untuk terus berlomba dalam kebaikan, menjemput takdir sejarah yang telah Allah tuliskan.

Aktivitas kerelawanan, politik, dan keprofesian, semoga ini tetap istiqamah kulakukan dalam membawa kemanfaatan untuk umat. Wilayahku hanya sampai totalitas dalam berjuang, selebihnya biar Allah yang menjadi sebaik-baiknya pemberi ganjaran dan keputusan.

5 April 2012, semoga tak hanya bertambah bilangan angka, tapi juga nilai makna. Mohon maaf jika selama ini ada yang masih suka terdzalimi, belum tertunaikan hak nya, belum memenuhi janji, dan menjadi pemimpin yang masih banyak kekurangan dalam menjaga dan melayani. Perbaikan setelah ini menjadi keharusan, mohon doa :)

~ sebuah tulisan yang ingin dirampungkan 10 hari yang lalu, namun baru terealisasi sekarang karena baru menemukan waktu yang tepat, pada saat ini :)

Dokter Muda Bicara Kenaikan Harga BBM

Bukan latah, apalagi karena jengah melihat timeline twitter, tayangan Televisi atau berita di media massa yang sedang genit-genitnya mengangkat isu kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak,red) yang seolah mengalihkan isu-isu lain seperti kasus wisma atlet, kisruh dan skandal Demokrat, mafia pajak, hingga kelanjutan kasus Bank Century yang hingga kini ceritanya menggantung entah kemana. Agenda setting media aku fikir sukses berat menggiring massa beralih dari satu isu ke isu lainnya.

Rehat sejenak wajar aku fikir, di sela-sela memikirkan rehabilitasi medis pasien stroke, osteoarthritis, low back pain hingga cerebral palsy di rumah sakit ini, aku pinjam waktunya sejenak untuk menulis. Menulis tentang hal yang sedang ramai-ramainya dibicarakan oleh rekan-rekan seusiaku,hingga adik-adik ku dengan semangat mereka yang membara, berlabel idealisme menyuarakan amanah rakyat.

Tepat hari ini, adik-adik ku pergi menyuarakan amanah rakyat ke Ibukota, mengetuk pintu gedung DPR dalam demonstrasi menolak kenaikan harga BBM yang dibawakan nya. Sah-sah saja, tak ada yang salah dengan demonstrasi di negara demokrasi bernama Indonesia seperti ini aku fikir.

Bukan tentang demonstrasi yang akan kubahas (walau sesekali, sedikit banyak akan kusinggung tentang hal ini) di tulisan ini, melainkan tentang isu kenaikan harga BBM nya yang coba ingin aku tanggapi. Sesuai dengan judulnya, ini semacam tulisan seorang dokter muda yang berbicara tentang kenaikan harga BBM. Akan dangkal memang, atau sangat dangkal mungkin, orang yang berbicara diluar kapasitas inti nya ini, orang dengan keseharian berkutat dengan penyakit individu, hingga kesehatan masyarakat, kini ingin bicara tentang makroekonomi suatu bangsa. Tak apalah dibilang dangkal, dibanding menjadi dungu, menolak atau menerima kebijakan tanpa alasan dan alternatif solusi, anarkis, rusuh, bahkan menganiaya yang lain. Lebih baik dangkal dibanding tumpul, punya banyak gagasan dan omong besar namun menguap seiring berjalan nya waktu karena tak pernah ia tuliskan.

Berbicara tentang BBM, kembali mengingatkanku tentang pelajaran IPA jaman SD dulu. Minyak mentah, adalah sumber daya yang tidak dapat diperbaharui (not renewable). Setiap kali minyak mentah diangkat ke permukaan bumi, persediaan minyak di dalam perut bumi berkurang. Pemakaian (konsumsi) minyak bumi sebagai bahan baku BBM meningkat terus, sehingga permintaan yang meningkat terus berlangsung bersamaan dengan berkurangnya cadangan minyak di dalam perut bumi. Hal ini yang membuat permintaan senantiasa meningkat sedangkan berbarengan dengan itu, penawarannya senantiasa menyusut. Inilah mungkin yang menjadi alasan mengapa harga minyak mentah di pasar internasional selalu meningkat. Inilah juga yang menjadi alasan, bahwa BBM merupakan barang yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak.

Sebelum menyatakan sikap menerima atau menolak kenaikan harga ini, mari kita sama-sama menelaah kondisi yang berkembang saat ini, sehingga aku juga kita semua tak dibilang meracau atas semua penyikapan yang kita lakukan.

Aku ingin mengawali dengan sebuah informasi yang kudapat bahwa harga BBM di Indonesia adalah yang termurah ketujuh di dunia (enam termurah pertama adalah negara dgn SDA minyak bumi yg melimpah) dan paling murah se-Asia Tenggara. Lalu apa alasan pemerintah menaikkan harga BBM ini? setahuku ada beberapa alasan yang sering mereka kemukakan, semacam tidak tepat sasaran, implikasi logis dari kenaikan harga minyak dunia, konsumsi BBM terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk yang juga memiliki trend menanjak, sampai pembengkakkan APBN (yang sampai saat ini,alasan terakhir ini belum bisa aku mengerti sepenuhnya).

Apakah subsidi BBM ini tidak tepat sasaran?? Nampaknya bertentangan dengan data yang kudapat. Data Susenas 2010 oleh BPS menyebutkan 65% BBM bersubsidi dikonsumsi oleh kalangan menengah bawah dengan pengeluaran per kapita di bawah US$ 4 dan kalangan miskin dengan pengeluaran per kapita di bawah US$ 2. Sementara itu, 27% digunakan kalangan menengah, 6% kalangan menengah atas dan 2% kalangan kaya. Data Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas menyebutkan, kuota BBM bersubsidi tahun 2010 sekitar 36,51 juta kiloliter(KL) dengan rincian premium 21,46 juta KL, solar 11,25 KL dan minyak tanah 3,8 juta kl. Sementara konsumsi premium, 40% untuk sepeda motor, 53% untuk mobil pribadi plat hitam dan 7% untuk angkutan umum.

Lalu terkait kenaikan harga minyak dunia, melalui pikirku yang dangkal, dengan kenaikan harga di pasar internasional bukankah kita seharusnya berkata, “Untunglah kita punyak minyak sendiri, sehingga harus mengimpor sedikit saja?”

Namun mungkin pemerintah punya pikiran lain. Harga bensin premium yang Rp. 4.500 per liter sekarang ini ekuivalen dengan harga minyak mentah sebesar US$ 69,50 per barrel. Harga yang berlaku saat ini adalah US$ 105 per barrel. Lantas dikatakan bahwa pemerintah merugi US$ 35,50 per barrel. Dalam rupiah, pemerintah merugi sebesar US$ 35,50 x Rp. 9.000 = Rp. 319.500 per barrel. Kalo mau dikonversi kedalam liter, maka pemerintah merugi sebesar Rp. 2009,43 per liter. Karena konsumsi BBM Indonesia sebanyak 63 milyar liter per tahun, dikatakan bahwa kerugiannya 63 milyar x Rp. 2009,43 = Rp. 126,59 trilyun per tahun. Maka kalau harga bensin premium dipertahankan sebesar Rp. 4.500 per liter, pemerintah merugi atau memberi subsidi sebesar Rp. 126,59 trilyun. Uang ini tidak dimiliki, sehingga APBN akan jebol. Begitu katanya.

Belum lagi mental bangsa ini yang masih sakit, tercatat kerugian negara akibat penyelundupan BBM Rp 50 triliun. Dengan semakin meningkatnya harga minyak dunia, kemungkinan penyelundupan BBM bisa jadi semakin besar, mengingat kenaikan harga minyak mentah dunia otomatis akan menaikkan harga pasaran BBM di negara lain. Terlebih ketika mendengar jika pertamina hanya mampu mengeksplorasi minyak mentah tanpa bisa mengolah menjadi BBM, sehinngga minyak mentah tersebut harus dijual lagi ke luar dan dibeli kembali dengan keadaan minyak yang sudah siap pakai (seperti dumping), sehingga tentunya pembelian minyak tersebut disamakan harganya dengan harga jual internasional.

Menurutku, pertamina tak bisa mengolah minyak mentah menjadi BBM itu jaman dulu kala,sekarang kilang minyak indonesia sudah bisa mengolah BBM bahkan sampai turunannya seperti pelumas (setahuku ada iklannya kan, pelumas pertamina), dan aspalt. Masalahnya mungkin, memang hanya sekitar 60 persen yg bisa di olah di indonesia (data ESDM ), sisanya diexport karena katanya yang sisa itu karakteristiknya tidak sesuai dengan kilang kita ( meskipun ada isu kongkalikong para exportir dan importir). Jadi, pengeluaran uang tunai untuk pemompaan minyak sampai ke atas muka bumi (lifting) ditambah dengan pengilangan sampai menjadi BBM (refining) ditambah dengan pengangkutan sampai ke pompa-pompa bensin (transporting), seluruhnya sebesar USD 10 per barrel. Dengan kurs yang 1 USD = Rp. 9.000, uang tunai yang dikeluarkan untuk menghasilkan 1 liter premium hanya sebesar Rp.566, sehingga untuk memenuhi kebutuhan 63 milyar BBM dibutuhkan dana sebesar Rp. 35,658 trilyun saja. Sementara jika kita tahu bahwa pertamina diperintahkan untuk mengadakan 63 milyar liter bensin premium setiap tahunnya, yang harus dijual dengan harga Rp. 4.500 per liter. Maka perolehan Pertamina atas hasil penjualan bensin premium sebesar 63.000.000.000 liter x Rp. 4.500 = Rp. 283,5 trilyun. Uang ini tak akan hilang, melainkan masuk ke dalam pos pendapatan di APBN yg digabung dengan penerimaan pajak dan non pajak lainnya lalu digunakan untuk membangun infrastruktur, belanja pegawai, gaji PNS dll.

Terlepas dari angka-angka tersebut, kenaikan harga BBM bagi (transportasi) industri dapat mengakibatkan kenaikan harga produksi kemudian harga jual, sehingga terjadi penurunan daya beli masyarakat. Juga, ketika biaya produksi industri meningkat, maka salah satu langkah pemulihan yang dilakukan industri adalah pengurangan jumlah tenaga kerja, atau PHK. Bagaimanapun jalurnya, menurutku kenaikan harga BBM membawa dampak terhadap masyarakat pada lapisan paling bawah. Kenaikan biaya hidup rata-rata diperkirakan ada di kisaran 20-30%. Kenaikan biaya hidup ini akan dirasakan oleh semua golongan masyarakat dari yang superkaya sampe yang miskin absolut. Menkeu memprediksi kenaikan bahan bakar minyak bersubsidi akan menyebabkan kenaikan tingkat kemiskinan menjadi 12,8%. Angka ini jauh lebih tinggi dari target pemerintah 10,5 – 11% pada 2012.

Menurutku Bantuan Langsung Tunai yang ditawarkan sebagai solusi nampaknya belum menyelesaikan masalah tanpa masalah. Dari info yang kudapat, dana penghematan dari kenaikan harga BBM bersubsidi adalah sebesar Rp 26 trilyun. Sementara BLT dan bantuan kepada pengusaha angkutan darat sekitar Rp 30 trilyun, belum lagi risiko “ditilep” oleh birokrat karena kita belum menemukan mekanisme pengontrolan yang tepat. Terlebih pemberian bantuan yang belum tepat sasaran. Lihat saja dari carut-marutnya pemberian Jamkesmas tak tepat sasaran yang sampai saat ini masih banyak ditemukan. Bagaimana mau disebut penghematan kalo seperti ini?

Oleh karena itu Putusan Mahkamah Konstitusi bernomor 002/PUU-I/2003 menyatakan aturan yg mengharuskan harga minyak sesuai harga pasar bertentangan dengan UUD 45. Harga bahan bakar minyak dan gas bumi diserahkan pada persaingan usaha yang sehat dan wajar dari Undang-Undang nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi bertentangan dengan Undang-Undang dasar Republik Indonesia. Menurut UUD kita, harga BBM tidak boleh ditentukan oleh siapapun juga kecuali oleh hikmah kebijaksanaan yang sesuai dengan kepatutan, daya beli masyarakat dan nilai strategisnya bagi sektor-sektor kehidupan ekonomi lainnya. Mengapa ? Karena BBM termasuk dalam “Barang yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak.

Berbicara tentang sikap, hati kecil dan ilmu yang sampai di kepala ini tak bisa berbohong, bahwa kenaikan harga BBM ini merupakan kebijakan yang aku belum berpihak padanya. Lagi-lagi dengan pikiranku yang dangkal, bagiku mungkin ada beberapa alternatif yang bisa diajukan selain menaikan harga kenaikan BBM.

Menyunat anggaran mungkin menjadi hal utama yang sangat direkomendasikan. Keperluan birokratis yang besarnya lebih dari 50% total APBN 2012 aku rasa masih sangat bisa untuk dipangkas. Anggaran studi banding, belanja pegawai dsb, mungkin masih bisa dikurangi. Jangan sampai kita mengorbankan rakyat banyak, sementara beliau-beliau yang di gedung parlemen dan pemerintahan tak mau merugi, gajinya puluhan juta dan mendapat jatah mobil dinas serta bensin dari negara. Optimalisasi pengelolaan penerimaan negara (pajak dan non-pajak). optimalisasi pengelolaan belanja negara, serta optimalisasi pembiayaan mutlak dilakukan.

Alternatif lain seperti Konversi Bahan Bakar Gas (BBG). Konversi BBG di Indonesia sudah berlangsung sejak tahun 1995. Dan 15 tahun kemudian (tahun 2010), perkembangannya adalah; kendaraan yang menggunakan BBG baru 2.000 unit (jauh dibanding Malaysia sebanyak 46.701 unit dan Iran sebanyak 1,95 juta unit). Pertumbuhan kendaraan yang menggunakan BBG di Indonesia per tahun tercatat minus 3,3% (sementara Malaysia tumbuh 116,2% dan Iran tumbuh 24.426%). Jumlah SPBG di Indonesia tahun 2010 tercatat 9 tempat (sementara di Malaysia 159 lokasi dan Iran 1.574 lokasi). Sebagai catatan, Indonesia, Malaysia dan Iran sama2 memulai konversi BBG sejak tahun 1995. Ironis? Memang, sementara Argentina yang belajar konversi BBG ke Indonesia saat ini telah sukses menerapkan BBG sebagai bahan bakar utamanya.

Sudah saatnya kita membangun infrastruktur untuk BBG, perbaharui dan wajibkan semua angkutan umum menggunakan BBG, sehingga tarifnya jauh lebih murah, setelah itu produksi masal converter BBG untuk kendaraan bermotor sehingga lebih murah, dengan begitu semua orang akan beralih ke BBG. Itu cara yg dilakukan negara negara maju, sehingga jika kelak harga BBM akan dinaikan, tak akan terlalu berdampak besar. Namun entah ini bisa tercapai kapan, sebelum menuju kesana, jangan sampai lah ada lagi berita bus way (yg jelas jelas pake BBG) kebakaran. Semacam jadi PR untuk anak-anak bangsa di bidang tekhnik, seperti ITB dsb untuk menggelar seminar mengenai konversi gas untuk kendaran bermotor mulai dari sekarang menurutku.

Hmmm, atau jika memang tak ada pilihan lain untuk dinaikkan pun, mengapa tidak membuat BBM bersubsidi dengan dua harga. Jika pemerintah ingin mengambil kebijakan untuk menaikkan harga BBM, maka sebaiknya memilih kebijakan “pemilahan” sekaligus “pemihakan” (discriminative and affirmative policy) yaitu melalui skema BBM Bersubsidi 2 harga (dual price), yaitu Rp 6.000/liter untuk Mobil Pribadi sesuai usulan RAPBNP 2012, sementara Kendaraan Umum, Angkutan Pedesaan, Kendaraan Barang/Usaha Kecil Menengah, dan motor tetap seharga Rp 4.500/liter.

Dan jika memang tak ada pilihan lain, kenaikan harga BBM menjadi satu-satu nya pilihan, pengetatan pendataan dan pendistribusian segala jenis bantuan dari pemerintah (BLSM, beras miskin, subsidi siswa miskin dll) mutlak harus dilakukan bersama dengan transparansi nya.

Dan ada satu alternatif solusi lain yang aku sangat mengharapkan nya karena ada kaitan besar dengan kesehatan. Menaikkan cukai rokok! Ntah mengapa bukan solusi ini yang diambil pemerintah. Mengenai perihal pajak rokok ini, setahuku di newyork itu 100 ribu perbungkus, jika hal seperti ini diterapkan di negara kita, biaya kesehatan yg ditanggung pemerintah akan menjadi murah, karena orang miskin yang biaya kesehatannya kebanyakan di tanggung pemerintah akan jauh menjadi lebih sehat.

Nampak random memang seorang dokter muda ikut ambil bahasan dalam permasalahan ini. Namun jangan salah kawan, menjadi dokter sejatinya bukan menjadi agen penyembuh saja (agent of change), melainkan juga agen perubah dan pengembang bangsa ini juga (agent of change, agent of development).

Sebuah kajian singkat pribadi dalam beberapa jam ini memang sangat dangkal, atau banyak kekeliruan, pasti. Namun sekali lagi, setidaknya ingin aku tunjukkan, bahwa memiliki sikap harus disertai dengan alasan kuat yang mendasari nya, kadar intelektual penerus bangsa dipertaruhkan disini. Juga ingin menjadi sebuah ajakan, terutama bagi adik-adik yang diberi judul aktivis kemahasiswaan, jangan sampai tumpul, banyak bicara, nyaring dan genit di media, namun kemampuan analisis nya hanya ditataran cakap dan sikap saja, coba kau tuliskan, biarkan kami menilai gagasan mu, siapa tahu itu membuat paradigma kami berubah untuk menjadi lebih baik. Jangan terpatok dengan gaya lama (old fashion) pergerakan mahasiswa seperti demonstrasi saja. Juga bagi mereka yang bergerak di dunia kedokteran, bukan berarti dengan kesibukan mu berkutat dengan dunia klinis rumah sakit, tugas, dan ujian, membuat menutup diri akan kondisi sekitar.

Aku yakin, tak banyak diantara kita yang menyukai tulisan seperti ini, tapi terlepas dari itu semua, menulis kajian ditengah hectic nya dunia klinis rumah sakit menjadi angin segar sekaligus mengenang romantisme masa lalu di era mahasiswa bagiku, dan itu menyenangkan :)

Seandainya pun harga BBM naik menjadi kenyataan, ini pertanda, agar kita semakin meningkatkan infaq dan shadaqah kita, agar Allah semakin memudahkan rizki kita jauh melebihi kenaikan BBM yang ditetapkan pemerintah. Selebihnya masalah kebijakan, biar Allah yang memberi ganjaran, sebesar apa kemanfaatan dihasilkan dibanding dengan kemudharatan nya :)

#meracau, 28 Maret 2012

Bandung, ditengah persiapan ujian Rehabilitasi Medik

Mengubah Paradigma Keliru

" Aku berjanji nak, kelak akan selalu ada waktu, bukan hanya untuk mendengar ceritamu di hari ini, lebih dari itu, aku akan mendidikmu banyak hal, terlepas dari seberapa lelah dan sesibuk apa aku hari ini."

Ini tak sekedar janjiku padamu nak, lebih dari itu. Ini adalah bukti kesungguhan akan kewajiban yang Allah perintahkan. Ingin aku tunjukkan pada dunia, bahwa masih ada pria di jaman kini yang menjalankan peran fitrah yang Allah telah perintahkan.

Nanti engkau akan lihat sekitar, seberapa banyak pria hebat diluar sana yang sukses dengan karirnya, berhasil dalam menafkahi keluarganya, namun terkadang tak punya banyak waktu berkualitas untuk keluarganya, terlebih untuk mendidik anak-anak nya. Tanggung jawab ini kerap ditangguhkan, lantas didelegasikan kepada sosok wanita dengan peran ibu. Dan yang lebih miris dari itu, terkadang amanah Allah ini kerap dilimpahkan kepada orang lain, baik itu guru ngaji, sekolah, hingga pengasuh anak.

Ketahuilah nak, bahwa sudah menjadi persepsi umum di masyarakat kita, bahwa amanah mendidik seolah ada di tangan ibu. Wanita yang kini kebanyakan kita 'judge' punya tanggung jawab mendidik dan membentuk generasi penerus bangsa ini. Mereka yang kemudian banyak disalahkan ketika kita melihat seseorang melakukan kesalahan.

Entah dari mana mulanya, dunia kini seolah menekankan pada kita bahwa seorang pria kelak akan menjadi ayah dan punya kewajiban memimpin dan menafkahi keluarganya, sibuk dengan urusan nya diluar rumah, sementara seorang wanita kelak akan menjadi ibu dan punya beban dengan semua urusan anak-anak.

Padahal tahu kah kau nak, bahwa hingga saat ini aku tak pernah menemukan satu ayat pun yang memotret momen pendidikan dari para ibu, kecuali adanya perintah menyusui (tanpa menafikan tugas amar ma’ruf nahi mungkar yang sifatnya umum, baik untuk laki-laki maupun perempuan). Praktik pendidikan kaum muslimin dan para ulama pendahulu kita, seperti yang aku temukan di Qur'an, Hadist, maupun kisah ulama-ulama selalu menempatkan peran mendidik ini pada sosok pria, seorang ayah.

Ingin aku ceritakan padamu tentang Luqman Al-Hakim, dia bukan seorang Nabi atau Rasul, bukan seorang Mujahid yang waktunya dihabiskan di medan peperangan membela agama Allah, bukan pula ulama besar, dia hanyalah seorang lelaki Habsiy yang berkulit hitam dan berprofesi sebagai An-Najjar (tukang kayu) tapi subhanallah derajatnya sungguh mulia di sisi Allah sehingga namanya di abadikan dalam Kitab suci Al-Qur’an menjadi nama dari surah yang ke 31, salah satu yang paling menonjol dari seorang Luqman Al-Hakim adalah nasehat-nasehatnya yang penuh hikmah yang dia tujukan khusus kepada anak lelakinya.

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." QS. Luqman (31) ayat 13

Ayat ini, bersama dengan ayat-ayat serupa (al-Baqarah 132, Yusuf 67) bercerita tentang para ayah (Luqman, Nabi Ya’kub, dan Nabi Ibrahim) yang sedang mendidik anak-anaknya. Sekali lagi, ternyata proses pendidikan (dalam keluarga) yang digambarkan melalui al-Qur’an dilakukan oleh para ayah.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda, “Seorang ayah yang mendidik anak-anaknya adalah lebih baik daripada bersedekah sebesar 1 sa’ di jalan Allah.” Bahkan Nabi pun mencontohkan, bahkan ketika beliau sedang disibukkan dengan urusan menghadap Allah SWT (shalat), beliau tidak menyuruh orang lain (atau kaum perempuan) untuk menjaga kedua cucunya yang masih kanak-kanak, Hasan dan Husain. Bagi Nabi, setiap waktu yang dilalui bersama kedua cucunya adalah kesempatan untuk mendidik, termasuk ketika beliau sedang shalat.

Banyak juga contoh bagaimana para ulama kita menyediakan waktu untuk pendidikan putri-putrinya sebagaimana mereka meluangkan waktu untuk tugas-tugas lainnya. Ingin aku ambilkan beberapa contoh. Didapati dari riwayat pakar pendidikan Islam Ibnu Sahnun (256H). Disebutkannya, Hakim Isa bin Miskin selalu memanggil dua putrinya setelah shalat Ashar untuk diajari al-Qur’an dan ilmu pengetahuan lainnya. Demikian pula dengan Asad bin al-Furat, panglima perang yang menaklukkan kota Sicily, ternyata juga mendidik sendiri putrinya. Syaikhul Islam Abu Abbas Ahmad bin Abdillah al-Maghribi al-Fasi (560 H) juga tercatat mengajari putrinya 7 (tujuh) cara baca al-Qur’an, serta buku-buku hadits seperti Bukhari dan Muslim.

Dari beberapa contoh di atas bisa kita lihat, bahkan untuk pendidikan anak perempuan sekalipun, para ulama tidak melemparkan tanggung jawab kepada istri-istrinya. Begitu intensifnya peran ayah dalam pendidikan anak-anaknya, hingga tatkala menjelang sakaratul maut pun, seorang ayah yang baik memastikan sejauh mana keberhasilannya dalam mendidik anak-anaknya dengan bertanya kepada mereka, "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" (maa ta'buduuna min ba'dii, al-Baqarah 133).

Aku fikir, mungkin saja jika kenakalan remaja dan kerusakan generasi di masa kini menjadi kian parah, sebab, para ayah hebat kita—pengacara terkenal, hakim agung, pengusaha sukses, dokter handal, termasuk beberapa ustadz yang luar biasa dalam dakwah—terlalu sibuk mendidik orang lain dan menyepelekan kewajiban untuk mendidik anak-anaknya.

Dan untuk itu nak, kelak walau aku menjadi seorang dokter yang sangat sibuk, sibuk mendidik para mahasiswa kedokteran dan bahkan berceramah keliling nusantara, sibuk mengerjakan dan memegang amanah negara, sibuk mengabdikan diri untuk bangsa dan masyarakat ini, semoga kelak tak membuat diri ini begitu loyo dan beralasan tidak punya waktu ketika harus mendidik anak-anak ku sendiri.

Berbincang dengan mu, memunculkan semangat baru bagiku untuk menjalani hari esok, dengan mengajari mu, membuatku terus mempelajari ilmu dan berintegritas atas apa yang aku sampaikan. Dengan mendengar aktifitas mu hari ini dan bercerita padamu tentang aktifitasku, kelak bisa menumbukan inspirasi bagimu untuk bisa jadi jauh lebih baik dari ku kelak.

Mengapa aku sampaikan ini padamu? Untuk mengubah paradigma keliru, bahwa sejatinya mendidikmu adalah tanggung jawab ku, ayah dari anak yang dilahirkan oleh istriku, ibumu.

#sebuah pemikiran random

(tiba-tiba ingin nulis tentang ini)

Dani Ferdian

Bandung, 29 Januari 2012 22:50

Maafkan Aku Dinda, Namun Karena Ini Aku Mengerti dan Semakin Memahami.

Dinda, ada yang ingin aku ungkap, walau entah darimana aku harus memulai menceritakan kisah ini kepadamu. Lidah ini nampak kelu, malu. Aku hanya mampu berujar maaf. Maaf, jika engkau bukanlah wanita yang pertama. Ya, bukan wanita pertama yang sengaja aku sentuh selain ibu dan adik perempuanku.

Sengaja menyaksikan dan menyentuh bagian paling terlarang wanita, lebih dari satu kali, pada orang yang berbeda pula. Tak usah kau bayangkan, karena aku pun tak ingin membayangkan nya lagi, bahkan hanya untuk sekadar bercerita padamu aku tak kuasa. Namun bagiku, berkata jujur padamu adalah sebuah keutamaan.

Tapi percayalah dinda,bahwa sengaja bukan berarti sebuah kemauan. Tuhan kita yang menyaksikan. Seandainya dinding Rumah Sakit ini pun mampu berucap, pasti ia ceritakan. Sengaja demi pendidikan, memenuhi sebuah tuntutan, dan kebutuhan akan sebuah misi kemanusiaan. Melewati keadaan seperti ini adalah keniscayaan,agar aku mampu menanggung beban kehidupan, dan tanggung jawab kepemimpinan kemudian.

Namun justru karena keadaan ini lah yang akhirnya membuat aku sadar akan sebuah kenyataan. Bahwa menjadi dirimu tak semudah yang aku bayangkan. Menjadi ibu dari anak-anakku adalah ketulusan yang mengharukan. Sakit yang tiada terperikan seolah tergantikan dengan harapan kehadiran anak yang kau nantikan. Sungguh, surga bagimu tiada tergantikan.

Kesakitan, linangan air mata, tetesan keringat seolah menemani jihadmu dalam persalinan. Deraian darah menjadi satu hal yang tak mungkin dielakkan dan taruhan dengan kematian senantiasa menjadi momok yang menakutkan, namun itulah kenyataan. Rasa sakit yang tak tertahankan kala persalinan tak pernah kau sesalkan.

Dinda, barulah aku paham, menjadi wanita sepertimu adalah kemuliaan. Itulah mengapa saat wanita hamil, ia mendapatkan pahala puasa disiang hari dan pahala ibadah dimalam hari, serta ganjaran 2 rakaat shalat wanita yang hamil lebih baik dari 80 rakaat shalat wanita yang tidak hamil.

Begitupun ketika persalinan, wanita yang bersalin mendapat pahala 70 tahun shalat dan puasa, serta setiap kesakitan pada satu syarafnya, Allah memberi satu pahala haji. Sekiranya wanita meninggal dunia dalam masa 40 hari selepas bersalin ia dikira sebagai mati syahid.

Dinda, sadarkah juga selama dua tahun engkau menyusui, selama itu juga kebaikan mengalir untuk dirimu? Wanita yang menyusui anaknya akan mendapatkan 1 pahala dari setiap tetes susu yang diberikannya. Wanita yang menyusui anaknya yang menangis maka Allah memberi pahala satu tahun pahala shalat dan puasa. Jika wanita menyusui anaknya hingga 2. 5 thn, maka malaikat dilangit mengabarkan berita bahwa syurga wajib baginya.

Belum lagi untuk tidurmu yang terganggu saat engkau merawat anak kita. Seorang ibu yang menghabiskan waktu malamnya dengan tidur yang tidak selesai karena menjaga anaknya yang sakit, mendapat pahala seperti membebaskan 20 orang hamba. Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari karena menjaga anaknya yang sakit akan di ampunkan oleh Allah seluruh dosanya dan bila dia menghibur hati anaknya Allah memberi 12 tahun pahala ibadah.

Aku memang belum mempelajari benar tentang hadist diatas dinda, siapa perawi nya, dan bagaimana keshahihan nya. Namun tak berlebihan rasanya ganjaran seperti itu, untuk wanita sepertimu.

Dinda, sungguh aku bangga, di masa kekinian masih ada wanita sepertimu, menjadi wanita yang hanya bercita-cita menjadi istri dan ibu yang baik. Kau relakan masa keemasan dan karir cemerlang, hanya untuk kedekatan dan madrasah terbaik untuk anak-anakku. Kau buat mereka tak pernah merasa kehilangan, perhatian, kasih sayang, pendidikan (tarbiyah), dan senyuman yang senantiasa menyimpul di gurat wajah bahagia mereka. Dari rahim mu, kita hasilkan generasi terbaik penerus bangsa ini.

Dinda, melihat sosok dirimu bagiku engkau adalah bukti kesungguhan, bukti pengorbanan, dan wujud kesetiaan.

Dan membagi peran bersama mu, adalah sebuah kebahagiaan :)

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalihah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri (maksudnya tidak berlaku serong ataupun curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya) ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara “(mereka; maksudnya, Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik).

(QS An-Nisaa’/ 4:34).

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi S.A.W. bersabda : "Sebaik-baik wanita adalah apabila engkau pandang dia maka dia menggembirakan, bila engkau perintah dia taat, bila engkau tiada dia menjaga hartamu dan menjaga pula kehormatan dirinya. "

Sekali lagi, maafkan aku dinda, jika seandainya kau bukan wanita pertama yang sengaja aku sentuh, namun tetap bersyukurlah, karena setelah melewati fase ini, aku semakin mengerti, bahwa menjadi dirimu tak semudah yang aku bayangkan, bahwa menjadi dirimu adalah kemuliaan, dan hidup bersamamu adalah sebuah kebahagiaan :')

* tulisan random dokter muda Obgyn (obstetric & gynaecology)/Kebidanan. Mencoba mencari hikmah dari setiap kejadian. Untuk ibu, calon ibu, dan partner hidup mereka, semoga bisa semakin memaknai. Hanya ingin menjerat hikmah, dalam format dan gaya berbeda. Semoga tidak memantik sebuah rasa yang populer dikenal dengan kata "galau" kemudian. :D

-sebuah catatan pasca stase RSKIA Astana Anyar, 7 Januari 2012-

semoga bisa banyak mengambil hikmah lain nya pada 8 minggu selanjutnya di RSHS dan RS Jejaring lain nya.

*kalo ada orang yg gk terlalu suka bidang obgyn seperti saya,maka kejar hikmah kehidupan sebanyak-banyak nya dalam pembelajaran tentang kehidupan di bagian ini :) *

Pemuda dan Takdir Sejarah

"Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku satu pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia" (Bung Karno)

Logika ku berfikir, entah bagaimana caranya seorang pemuda bisa mengguncangkan dunia, juga sempat terfikir, apakah ini hanya sekedar kata, realita, atau sekadar harap. Entah, aku pun jadinya tak yakin, mengguncang dunia dengan kebaikan, atau malah keburukan.

Tapi nurani ku masih berujar, bahwa ucap yang keluar dari pemimpin besar sejati nya kebaikan. Maka, tak ayal mengguncang dunia pun tentunya dengan kebaikan. Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana caranya melakukan itu di era kekinian?

Usiaku kini menginjak 22 tahun lebih, begitu pun dengan kawan-kawan di sekitarku. Usia matang seorang pemuda rasa-rasanya, bagiku ini momentum emas seseorang menjemput takdir sejarah dalam hidup. Itu idealnya. Namun terkadang banyak yang membuat idealisme dan harapan ku akan pemuda bangsa ini gentar.

Lihatlah di sekeliling mu wahai pemuda, dan jujurlah pada hati nurani dan Tuhan mu. Seberapa banyak diantara kita yang punya keegoisan tinggi untuk dirinya. Masih banyak diantara kita yang keseharian nya fokus pada dirinya, hanya memikirkan esok akan makan apa, berpakaian bagaimana, dan hendak beraktivitas apa, begitu seterusnya. Juga lihatlah, seberapa banyak diantara kita yang khawatir dengan masa depan nya, mencari pendidikan setinggi dan sebaik mungkin, mencari pekerjaan sebaik, seenak dan semenyenangkan mungkin, mencari kekayaan sebanyak-banyak nya, kejaran nya hanya materi. Atau coba kita lihat para aktivis itu, aktif di berbagai organisasi kepemudaan, lantang meneriakkan tentang rakyat dan kebenaran, namun linear dengan motivasi kepopuleran nya. Atau lihatlah juga, mereka yang aktif dan punya ketulusan, namun banyak terhenti dalam pewacanaan, alasan klasik, karena keterbatasan.

Sementara aku pernah diceritakan, tentang para pemuda muslim yang ceritanya mengguncangkan. Saád bin Abi Waqash yang pada usia 16 tahun sudah turut serta dalam perang uhud, dia tercatat sebagai darah pertama yang mengalir dalam perang itu. Atau Zaid bin Tsabit, anak kecil ini merengek ingin ikut dalam perang badar, namun tidak diizinkan oleh Rasulullah SAW karena usianya waktu itu masih 12 tahun. Atau lihat juga kisah Muhammad Al-Fatih, kisah yang melegenda ini adalah contoh dari seorang pemuda berusia 23 tahun, namun berhasil menaklukkan negara adidaya waktu itu yaitu Konstantinopel. Ini hanya beberapa contoh, dari kisah kepemudaan yang mengguncangkan.

Walau dengan kondisi kekinian, aku masih punya keyakinan, bahwa di Indonesia pun masih ada pemuda dengan cerita mengguncangkan, bahkan kelak akan melegenda dan menjadi tumpuan harapan. Begitupun dengan kalian, semoga masih muncul harapan, untuk mewujudkan impian. Impian dalam menunaikan hak bangsa yang ada pada diri setiap kita. Jangan hanya menunggu kesempatan, tapi cobalah kalahkan keterbatasan. Jangan patah karena lelah, dengan ini kau akan tetap bertahan. Ingatlah kawan, hanya yang kuat yang akan bertahan, dan hanya yang bertahan yang akan sampai tujuan. Juga ingatlah, bahwa realita ada tanpa diminta, sementara idealisme ada karena diperjuangkan.

Refleksikan dalam diri, bahwa ada hak umat dalam diri yang harus ditunaikan. Hilangkan keegoisan, dan tumbuhkan kesungguhan untuk senantiasa memenuhi kebutuhan. Selalu ada yang bisa kita berikan dengan kapasitas kita yang membanggakan. Hal kecil yang dilakukan secara konsisten, itupun membanggakan. Bergabunglah dalam barisan orang-orang muda yang punya impian dan kesungguhan, walau mungkin jumlah mereka tidak seperti kebanyakan orang, inilah kenyataan, kenyataan yang membanggakan.

Masih ingatkah sebuah perkataan, bahwa kenyataan hari ini adalah hasil impian kita di masa lalu, dan kenyataan masa depan adalah buah impian kita di masa kini? Jangan takut untuk bermimpi besar, sekalipun kelak pencapaian mu kecil, tetapi setidaknya kau pernah bermimpi besar.

Ingatlah perkataan ku kawan, bahwa impian harus disertai kesungguhan, totalitas. Jika ini kau tinggalkan, impian akan berakhir pada keterbatasan. Pemikiran hanya terwujud dalam proses pewacanaan, dan kenyataan tinggalah angan-angan.

Satu hal yang perlu mendapat perhatian, impian tak hanya untuk semangat kebangsaan saja. Ada hal mendasar yang pemenuhan nya harus didahulukan, semangat ketuhanan. Karena sejatinya, kontribusi untuk bangsamu ialah sarana menjemput amal unggulan untuk kelak menjadi bekal menghadap Tuhan mu yang menciptakan.

Kemudian yang jadi pertanyaan, sekarang apa yang akan kita kerjakan dalam memenuhi peran kepemudaan kita untuk menjemput takdir sejarah demi kemanfaatan umat ini?

konkret, tak sekadar wacana, walau kecil, jika itu konsisten dilakukan, bagiku itu membanggakan :)

-sebuah refleksi malam-

RSUD Majalaya, 17 Januari 2012, 23.10