Menjadi Istri Yang Tak Gugur Di Dapur

Aku masih ingat betul, setiap aku pulang sekolah dulu, teriakan kedua setelah salam ketika masuk rumah adalah, " Bu, masak apa hari ini ? " . Masakan khas Ibu bagiku memang memiliki daya tarik tersendiri. Ada hal irasional yang mampu memperkuat cita rasa apapun yang dimasak Ibu. Tak heran, dulu aku hanya mau makan sayur yang dibuat ibuku, diluar itu bukan perkara mudah bagiku untuk mau makan sayuran. Melihat dari sosok ibuku, dulu aku berpikir bahwa semua ibu tentunya pintar memasak. Memasak seolah menjadi pekerjaan yang identik dengan kaum wanita. Namun semakin beranjak dewasa, aku menemui kenyataan bahwa tidak semua wanita mahir memasak, bahkan sebagian dari mereka memang tidak menyukai bidang itu.


Tentunya ada banyak alasan mengapa sebagian wanita tidak suka memasak, mulai dari ketidakmampuannya di bidang tersebut, lebih baik mengerjakan hal lain yang lebih produktif, kesetaraan gender, bahkan hingga tidak adanya aturan yang tertuang dalam Al Quran dan hadist mengenai perkara tersebut. Mengenai alasan ini, tak perlulah kita memperdebatkan karena bukan itu tujuan dibuatnya tulisan ini. Dulu sebelum menikah, kemampuan memasak tak menjadi kriteriaku dalam mencari istri. Tapi jika ditanya tentang harapan, tentunya memiliki istri yang bisa memasak adalah harapan kebanyakan pria pada umumnya.


Keahlian dalam memasak bagiku adalah pembeda yang unik, ia adalah salah satu magnet yang mendekatkan seorang suami dengan rumahnya. Meskipun ia menemukan banyak makanan yang terlihat enak di luar, ia tetap akan lebih menyukai masakan yang ada di rumah. Karena ia mengetahui siapa yang memasaknya, mengetahui akan kebersihannya dan mengetahui dengan uang apa itu semua dibeli. Wanita yang mampu memasak jika telah berkeluarga maka ia akan menjadi perekat di keluarganya, ia menjadi faktor yang membahagiakan suami dan anak-anak melalui masakan yang dibuat. Dengan masakan tersebut, keluarga dapat bercengkrama bersama menikmati hidangan yang disajikan. Saat berkumpul itulah timbul kedekatan-kedekatan di antara anggota-anggota keluarga.


Selain itu, seorang wanita jika bisa memasak maka saat ia berperan sebagai seorang istri, ia akan mampu menghemat pengeluaran keluarga. Tapi jika tidak mampu memasak dan hanya mengandalkan masakan yang dijual di warung, maka itu akan menyebabkan pengeluaran yang besar di keluarga. Mari kita coba hitung, harga satu porsi masakan standar yang dijual di warung berkisar Rp 8000 – Rp. 15.000. Kita ambil harga pertengahan saja: Rp 10.000, maka bayangkan berapa anggaran dana yang dibutuhkan oleh satu keluarga dengan 3 orang anak untuk makan 3 kali dalam 1 hari yaitu 5 x 3 x Rp 10.000 = Rp 150.000 / hari. Dalam sebulan dibutuhkan dana sebesar; Rp 150.000 x 30 hari = Rp. 4.500.000. Hanya untuk makan, angka tersebut termasuk cukup besar bukan? Untuk wanita yang cerdas dan bisa memasak, angka sebesar itu mungkin bisa dibelikan ke berbagai bahan mentah untuk membuat lebih banyak variasi masakan, dan tentu saja untuk jangka waktu yang juga lebih lama.


Memang tidak kita pungkiri bahwa ada banyak keluarga dengan penghasilan yang besar, sehingga jumlah uang 4,5 juta untuk membeli makanan bagi mereka adalah kecil. Bahkan sebagian mampu menyediakan pembantu yang ditugaskan untuk memasak di rumah. Tidak ada yang salah dengan itu, hanya saja bagiku mungkin ada kehangatan yang hilang di meja makan. Ketika masakan yang dibeli atau dimasak pembantu begitu enak, seorang suami atau anak-anak akan berkomentar, “wah masakan si mbok enak banget ya ”. Akan terasa beda jika komentar yang muncul adalah, “wah masakan Ibu enak banget, besok masak lagi ya bu ”. Terasa berbeda bukan? Cinta bisa lebih mekar salah satunya lewat masakan yang dihidangkan.


Lalu apakah kemampuan memasak bagi seorang wanita itu adalah sebuah kerangka sosial yang terbentuk, atau memang kodrat seorang wanita? Terlepas dari itu, bagiku seorang wanita perlu bisa memasak, tidak harus mahir. Asin-asin sedikit tidak apalah, tetap akan masih dipuji oleh seorang suami yang beriman. Tidak sehebat koki pun tak masalah, asal ada kemauan untuk terus belajar. Apalagi di zaman serba canggih, resep masakan apa saja tinggal cari di Google. Jangan pernah putus asa ketika ada gorengan yang hangus, tumisan yang hambar, gulai yang asin dan kehancuran fatal lainnya dalam memasak, itu semua biasa saja. Sungguh tidak ada kata terlambat untuk belajar, apalagi untuk belajar memasak. Belajarlah untuk membedakan mana jahe mana lengkuas, mana merica dan mana ketumbar, supaya tidak menjadi istri yang berguguran di dapur.


Akupun teringat ketika pertama kali istri menghidangkan masakan perdananya padaku, tak banyak ekspektasiku pada saat itu, yang pasti aku sudah mempersiapkan diri untuk menghadirkan ekspresi terbaik ku untuk menghargai dan menyenangkan hatinya. Selepas menyantap hidangan aku memang dibuat cukup kaget, hasilnya diluar ekspektasi. Aku yang tak berharap banyak dari masakan istriku ternyata mendapat hidangan yang nikmat untuk disantap. Alhamdulillah, walau kemampuan memasak tak menjadi kriteriaku dalam memilih istri, Allah hadirkan itu dalam kehidupan ku. Tiap hari aku melihat istri terus berproses dalam melatih kemampuan memasaknya, mulai dari mendata makanan apa yang aku suka dan tidak suka, belajar dari buku-buku resep, google, teman-temannya, hingga berlatih masak dari mama dan ibu mertuanya. Sekarang hingga ia punya daftar varian menu yang bisa aku pilih setiap harinya. Aku pikir nampaknya tak ada yang tak senang diperlakukan seperti ini bukan?. Lebih dari hidangan, masakan adalah bahasa perasaan. Maka cita rasa tak semata hasil olah bumbu dan bahan. Ada rasa di balik rasa. Dan cinta adalah rahasia yang kuat dibalik rasa. :)



Belajar Keberartian Hidup



Kematian, salah satu mozaik perenungan yang amat nyata bagi kita yang masih diberikan kesempatan hidup. Setidaknya kalimat itulah yang kembali terbersit di pikiranku hari ini, mengantarkan berpulangnya salah seorang sosok pekerja keras nan bersahaja, Bapak Toha. Kehadiran beliau selama hidupnya mungkin tak banyak dirasakan sebagian besar kita, namun ketika kini beliau tiada, banyak yang merasa kehilangan, setidaknya oleh sebagian besar warga kampus Universitas Padjadjaran (Unpad). Berita kematian beliau menyebar cepat di kalangan mahasiswa dan Alumni Unpad. Media twitter ramai membicarakan sosok dan memberikan ucapan belasungkawa terhadapnya, bahkan ramai kontak BBM ku mengubah display picture mereka dengan foto PaToha, mulai dari angkatan diatasku, hingga mahasiswa angkatan 2012. Beliau bukan pejabat kampus atau dosen, bahkan bukan pula karyawan Unpad. Beliau hanyalah seorang penjual tali sepatu dan koran di wilayah sekitaran kampus Universitas Padjadjaran, yang dagangannya pun jarang laku.

Aku pun sebenarnya tak mengenal betul Bapak satu ini. Awalnya aku sering melihatnya di gerbang kampus ketika sang Bapak menjajakan barang dagangannya, hingga kembali sering bertemu dengan beliau di Fakultas Kedokteran, tempat aku menjalankan kuliah dulu. Kembali sering kulihat sang Bapak rajin menjajakan dagangannya di plaza FK, sesekali mendatangi saung-saung tempat berkumpulnya mahasiswa untuk menawarkan barang dagangannya, dan tak jarang kulihat usahanya banyak mendapatkan penolakan. Wajar lah aku pikir, pada saat ini, berapa banyak sih orang yang memerlukan tali sepatu? Di kantin FK Unpad juga aku sering melihat beliau menjajakan dagangannya, bahkan sesekali ia pun menawarkan dagangannya padaku. Untuk tali sepatu memang aku jarang memerlukannya, biasanya yang aku beli koran dari Bapak tersebut. Harga yang ditawarkan 3000 biasa aku bayar 5000, dan tahukah kita dengan margin keuntungan yang tak begitu besar di dapat Pak Toha, ungkapan syukur begitu mendalam tampak dari Bapak tersebut. Sebuah pembelajaran bagi kita yang masih banyak lupa bersyukur atas berbagai kecukupan yang Allah berikan.

Aku juga sering bertemu dengan Pa Toha di mushalla kompleks UKM Barat. Ketika rehat dari rapat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di waktu Ashar, terlihat sesekali Pa Toha merebahkan badannya yang kelelahan di mushalla tersebut. Pun ketika waktu maghrib tiba, selepas berkegiatan di sekre BEM Unpad, ketika shalat maghrib Pa Toha masih ada di mushalla tersebut dan ikut shalat berjamaah. Bahkan, sesekali ketika aku pulang larut malam dan menyempatkan shalat isya selepas menjalankan amanah di BEM, aku melihat Pa Toha tertidur di salah satu sudut ruangan mushalla tersebut. Sering sekali Pa Toha berada di mushalla kompleks UKM Barat ini, bahkan sesekali aku sempat memergoki beliau sedang membereskan mushalla ini. Sempat heran dengan keberadaan Bapak satu ini di mushalla tersebut, ternyata dari informasi yang belakangan ini aku tahu, mushalla di kompleks UKM Barat ini menjadi tempat tinggalnya di Jatinangor, sebelum ia pulang ke Garut ke daerah asalnya ketika sudah memiliki cukup uang untuk menghidupi keluarganya disana. Katanya Pa Toha punya 12 orang anak, 5 orang anak sudah berkeluarga dan sudah tinggal jauh darinya. Jangankan membantu ekonomi Pa Toha, ke 5 orang anaknya tadi mesti berjibaku menghadapi kehidupan keluarga mereka yang masih serba kekurangan. Sementara 7 orang anak yang lainnya masih menjadi tanggungan Pa Toha untuk di sekolahkan. Selama uangnya belum mencukupi untuk dibawa ke kampung halaman, maka mushalla kompleks UKM Barat ini jadi tempat yang menemani sepi dan lelah Pa Toha setiap harinya. Besar harapnya untuk menjadi petugas kebersihan di Unpad, merapihkan dan menjaga mushalla yang disinggahinya, namun apa daya, usia lanjutnya tak sesuai dengan kriteria karyawan yang diterima Unpad. Alhasil, tenaga yang dikeluarkan untuk membersihkan dan merapikan mushalla ibarat menjadi bayaran sewa mushalla yang selama ini ia singgahi.

Kerja keras dan tanggung jawab Pa Toha adalah kisah yang harus kita teladani. Ditengah ketidakberdayaannya, bagiku Pa Toha adalah sosok pria sejati. Menjalankan komitmen terhadap keluarga dengan menjaga harga diri. Ketika masih banyak kita lihat di jalanan orang-orang yang masih berdaya namun hanya mengandalkan meminta-minta, Pa Toha ditengah kerentaannya masih sungguh-sungguh berjuang di atas kakinya sendiri. Sesekali kulihat tatapan kosong dan putus asa Pa Toha atas lelah dari jualannya yang jarang laku. Namun itu hanya jeda, untuk kemudian ia melanjutkan siklus perjuangan hidupnya di keesokan hari. Kembali hal ini pun menjadi pelajaran bagi kita, yang masih banyak bermalas-malasan dan banyak bergantung pada orang lain. Ditengah keberdayaan kita, nampaknya kita mengkerdilkan diri sendiri dengan sikap manja dan ketakutan menghadapi tantangan hidup yang ada, padahal kita masih muda. Hal lain yang sangat aku kagumi dari beliau, ditengah serba keterbatasannya, semangat berbaginya sangatlah mulia. Di Garut sana ia mendirikan sebuah madrasah, Al Insan namanya, tempat belajar dan mengaji anak-anak di sekitar daerahnya. Sungguh harusnya kita dibuat malu, jika ditengah kelapangan dan serba kecukupan kita, tak ada keinginan berbagi, memberi. Padahal sejatinya dalam diri setiap kita ada hak orang lain yang membutuhkan yang harus kita penuhi. Pa Toha, seorang yang memberikan arti mendalam bagi setiap kita yang masih bisa merasa. Semoga kepergiannya khusnul khatimah, di Jumat terakhir bulan Ramadhan ini, waktu yang begitu mulia.

Cerita serupa ingin aku sampaikan tentang seorang pedagang tahu keliling di komplek ku, Mang Ahyar namanya. Aku pun memang tak mengenal beliau, tapi mendengar ceritanya dari ibuku sedikitnya menggambarkan bagaimana sosok tersebut. Seorang pedagang yang ramah dan pintar berkomunikasi, seorang ceria yang senantiasa menyisipkan canda dan humor dalam setiap perjumpaannya, juga mengutamakan kepuasan dan kepercayaan pembeli. Di penghujung usia karena sakit jantung yang dideritanya, tahukah kita berapa orang yang melayatnya? Ratusan jumlahnya! Para pelanggan tahu dari hampir 4 komplek perumahan beramai-ramai beriringan melayat ke rumahnya. Rumahnya yang kecil tentunya tampak penuh sesak dengan ratusan orang yang melayat sang pedagang tadi.

Pa Toha dan Mang Ahyar adalah dua sosok yang memberikanku pelajaran, bahwa keberartian hidup bukan berasal dari harta, kepandaian atau keterampilan yang kita pelajari, melainkan dari akhlak yang baik yang akan menjadi penyenang hati setiap kita. Semoga aku menjadi pribadi yang ketika dilahirkan aku menangis sementara yang lain tersenyum, dan sepeninggalanku nanti, orang-orang menangisi kepergianku, namun aku tersenyum.

Sambutan Sumpah Dokter, Dari Saya Untuk Angkatan Tercinta, FK UNPAD 2007


Bismillahirrahmanirrahim,

Yang Terhormat,
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran beserta jajarannya,
Guru Besar dan Anggota Senat Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran,
Direktur Rumah Sakit Hasan Sadikin,
Direktur Rumah Sakit Mata Cicendo,
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat,
Ketua Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran,
para dosen, staff, dan karyawan FK Unpad,
dan yang kami muliakan, Ayahanda dan Ibunda tercinta, para orang tua dokter baru Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran,
serta rekan-rekan dokter baru Fakultas Kedokteran Unpad  yang saya cintai dan saya banggakan.

Assalamu’alaikum wr wb.
Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.

   Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang Maha Pengasih tapi tak pernah pilih kasih, dan yang Maha Penyayang yang kasih sayang Nya tak pernah hilang, karena atas kasih dan sayang Nya jualah Allah masih mentakdirkan kita untuk bertemu di hari yang berbahagia ini, Pengambilan Sumpah Dokter Gelombang III Tahun Akademik 2012/2013 Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.
     Rekan-rekan yang saya banggakan.
                Hari ini tentulah menjadi hari yang kita tunggu sejak lama,  menjadi hari istimewa yang dinantikan bagi kita yang menjalankan proses panjang pendidikan kedokteran. Sebuah kulminasi dari proses panjang pembelajaran dalam mematangkan ilmu serta mematangkan sikap seolah dirayakan hari ini. Mungkin belum lekang dalam ingatan, tentang kenangan, sebuah romantisme masa lalu yang kita rasakan sebagai satu angkatan. Menjadi angkatan terakhir yang masih merasakan OSPEK yang menginap selama satu minggu penuh di kampus. Open House luar biasa yang ramai dihadiri lintas angkatan, bahkan Prof Tri pun sempat mencoba bermain mini golf di kegiatan itu. Juga dengan Olymphiart, yang memang tidak pernah kita menangkan juara umumnya, namun kita rasakan benar maknanya, kekeluargaan, kedewasaan bersikap, dan TOTALITAS.
Belum lagi dengan berbagai kegiatan yang tiap kegiatannya selalu punya ceritanya sendiri.  Ditambah dengan pahit getir menghadapi ujian dan kesulitan, hingga saat-saat koass, saat kenangan beralih ke RSHS, tentang post jaga sindrom sampai keakraban dengan meskoas. Mungkin yang masih kita ingat betul, tentang kejadian saat UKDI dimajukan, masa- masa kita berpeluh bersama, menghadapi serangkaian estafet ujian, COMPRE-UKDI-OSCE. Babak belur bersama menjemput gelar dokter. Dan manisnya perjuangan, memang lebih terasa setelah pahit dilewati, itu setidaknya yang kita rasakan sekarang. Untuk itu, bersyukur mutlak menjadi keharusan.
Biarlah semua cerita tadi menjadi kenangan yang menjaga kebersamaan kita selamanya kawan. Setelah ini kita akan di tempatkan ke daerah-daerah untuk menjalankan internship, dan mungkin tidak akan berjumpa lagi dalam waktu yang lama. Maka biarlah kenangan tadi yang menjaga kolegialisme ini. 
Rekan-rekan yang saya cintai.
Hari ini kita semua berikrar sumpah, berkomitmen tentang kebersamaan dalam kesejawatan, tentang misi kemanusiaan, dan amanah keprofesian.  Hari ini resmi gelar dokter membersamai nama setiap kita. Kelak di masyarakat, mereka yang mengenakan jas putih, menjalankan profesi dokter, masih amat dipandang, dihargai, dan dijadikan tumpuan masyarakat ketika mengalami kesulitan, ucapannya begitu di dengar, dan sikapnya seolah dijadikan teladan. Namun ingatlah kawan, bahwa menjadi dokter itu, bukan kebanggaan. Tapi penjagaan. Menjaga rela, menjaga ilmu, serta menjaga keseimbangan alam. Menjadi dokter itu, bukan kehormatan. Tapi kekuatan. Kekuatan untuk menebar kebaikan, mengakses kebenaran, dan menjaga kerahasiaan.  Menjadi dokter itu bukan kesuksesan. Tapi tantangan. Tantangan untuk terus mengasah kualitas, untuk tak melupakan pahit sebelum keberhasilan, untuk menjaga api semangat agar tetap menyala hingga akhir perjuangan. Menjadi dokter, itu bukan penyembuh segala. Tapi tubuh perantara, perantara kepada sehat. “Menjadi dokter” itu kini bukan cita-cita lagi. Kini ia dalam proses menjelma nyata, dengan segala gelap terang di dalamnya.
                Selanjutnya, seperti yang tertera dalam Qur’an surat Al Insyirah ayat 7 yang artinya “ Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. “ Setelah ini internship akan kita jalankan. Mungkin kita pun kerap mendengar, tentang berbagai kesulitan yang terhampar kedepan. Tapi sadarilah kawan, bahwa sulit tak selamanya sulit, sebagaimana mudah tak selamanya mudah. Hanya saja dikhawatirkan kesulitan punya nafas lebih panjang dibanding semangat kita untuk mengalahkannya. Seperti yang orang bijak sering bilang, daripada mengutuk kegelapan, lebih baik nyalakan lilin. Dan lebih dari itu, saya mengajak kita pun menghadirkan mentari, dalam setiap jiwa kita, yang nyalanya tak pernah padam, sampai tutup usia kita. Sehingga sepanjang hidup kita, kita bisa jadi cahaya bagi yang lain.
                Atas berbagai hal yang kita dapatkan, pencapaian yang kita raih, dan beberapa tahapan yang akan kita hadapi kedepan, pada kesempatan istimewa ini, perkenankan saya, atas nama teman-teman yang disumpah pada hari ini, untuk menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya.
Pertama, terima kasih kami sampaikan kepada Rektor Universitas Padjadjaran beserta seluruh unsur pimpinannnya yang telah memberi kesempatan bagi kami untuk belajar di kampus yang banyak memberikan wahana pembelajaran ini. Tanpa kesempatan ini kami bukan siapa-siapa.
Selanjutnya, terima kasih, penghargaan, dan respek yang teramat dalam dari kami semua disampaikan kepada pimpinan Fakultas Kedokteran, beserta seluruh dosen yang kami cintai dan banggakan.  Dari mereka, kami semua dididik, diciptakan, diajar, ditanamkan kecintaan dan tanggung jawab yang besar terhadap ilmu kedokteran dan profesi dokter.
Kami sangat bersyukur dan bangga karena Allah, Tuhan YME mengizinkan kami semua memperoleh kesempatan untuk belajar dan dididik di FK UNPAD ini. Satu hal yang paling kami banggakan dari FK UNPAD adalah usahanya yang terus menerus tiada henti menjadi  fakultas kedokteran  yang terus menerus menciptakan inovasi dalam dunia pendidikan kedokteran Indonesia. Menjadi pionir dalam menciptakan gelombang reformasi pendidikan dokter yang lebih modern sekaligus humanis. Menjadi fakultas yang  berperan sebagai lentera bagi sekitarnya, senantiasa mewujudkan kemaslahatan bagi umat, dari Jawa Barat hingga dunia.
Oleh karena itu kawan, semoga semangat terus berinovasi dan mengembangkan diri ini menjadi bagian tak terpisahkan dari diri kita. Di kampus ini,  kita dididik untuk menjadi dokter yang bukan hanya senang ilmu pengetahuan tetapi berdedikasi dan berpihak kepada kemanusiaan, mengabdi kepada masyarakat. Untuk itu, jadilah seorang dokter yang tak hanya menjadi agen penyembuh, melainkan juga agen pengubah, sekaligus agen pembangun bangsa, sebagai bentuk bakti kita untuk almamater tercinta ini.
Terimakasih juga kami sampaikan teruntuk guru kami, yang selalu memberi inspirasi, menunjukkan keteladanan nilai-nilai, dan kesungguhan dalam memberi bekal pengetahuan. Semoga ilmu yang kami dapat mampu kami gunakan untuk memberikan kemaslahatan untuk umat sehingga kami dapat memberikan pahala yang terus mengalir atas ilmu yang bermanfaat yang engkau ajarkan.
Terima kasih juga kami sampaikan kepada staff  FK Unpad yang mungkin banyak kami repotkan, bahkan hingga kami buat kesal. Terima kasih atas kesabarannya melayani kami, semoga Allah senantiasa membalas dengan kebaikan. Juga kepada Ikatan Alumni, terimakasih juga kami sampaikan atas itikad baik dalam penjagaan alumni FK Unpad 2007 di internship nanti.
Terima kasih kami ucapkan juga terutama kepada orang tua, dan orang-orang yang kami kasihi,  yang selama ini telah mendukung kami. Mendengarkan kami ketika  bersedih, menyemangati  ketika melewati ujian-ujian yang sulit, memeluk  saat beban terasa begitu berat. Merekalah yang berdoa di malam-malam yang sunyi, ketika kami disini sedang terjaga mengerjakan tugas atau sedang mendapat giliran jaga malam. Mereka yang menangis rindu dalam jauhnya jarak, terlebih saat Idul Adha, Nyepi, Galungan, atau bahkan saat Natal maupun Idul Fitri karena tidak bisa bersama anaknya akibat padatnya aktivitas di kampus. Doa mereka tidak pernah berhenti mengalir, membukakan jalan bagi kami semua. Sungguh dalam kesempatan kali ini, izinkan kami mengucap terima kasih kepada ayahanda dan ibunda yang amat kami kasihi. Semoga setiap pengorbanan selama ini tidak menjadi sia-sia, menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kami dalam memberi pengabdian terbesar bagi sesama. Pencapaian kami sampai sejauh ini adalah bakti kami untuk mu, dan kelak pengabdian serta amal unggulan yang kami lakukan semoga menjadi penjemput Ayahanda dan Ibunda untuk mencapai Surga Nya.
Untuk adik-adik kami di FK Unpad, terimakasih kami sampaikan atas berbagai aktivitas yang membersamai, juga rasa hormat yang kalian berikan. Terimakasih pula atas bantuannya hingga saat ini. Maaf seandainya kami belum bisa jadi teladan yang baik. Kami menyayangi kalian.
Terakhir, terimakasih teramat dalam kepada angkatan, FK Unpad 2007, atas kebersamaan, atas warna yg ditorehkan dalam kanvas kehidupan, atas kenangan yang senantiasa menjadi penawar di tengah padatnya interaksi. Ingatlah kawan, 182 orang mahasiswa Indonesia tergabung dalam satu angkatan, dan hari ini tercatat 127 orang dokter baru dari angkatan ini berikrar sumpah. Tak satupun diantara kita yang boleh ditinggalkan, mari kita genggam kuat, kembali saling dorong dan menguatkan, serta senantiasa menghadirkan dalam doa, karena bagaimanapun, kita satu ikatan, satu tubuh.
Sadarilah kawan, setelah acara ini berakhir, kita akan menjalani hidup sebagai seorang dokter, yang setiap ucapan dan tindakannya terikat oleh sumpah, dan setiap teladannya menjadi contoh bagi masyarakat. Teruslah totalitas untuk menjadi dokter berhati emas, sampai habis masa pengabdian kita, sampai tutup usia kita. Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, memberkahi dan memberi kekuatan kepada kita. Terimakasih teman-teman, saya mencintai kalian karena Allah.
Terimakasih atas perhatian yang diberikan, mohon maaf atas segala kekurangan. Wassalamu’alaykum Wr.Wb.

Dani Ferdian, dr.
Ketua Angkatan FK Unpad 2007


Aku Akan Menikahimu, Dinda.


Ini bukan hanya tentang aku, begitupun bukan hanya tentang dirimu. Ini tentang kita. Ya, setiap kita yang sedang bertumbuh, menuju penyempurnaan agamanya. Satu per satu rekan-rekan, kerabat, senior, adik kelas, kenalan menyampaikan kabar gembiranya silih berganti dan berbagi kebahagiaan melalui undangan pernikahannya di tahun ini. Membaca tulisan ini, beberapa kita mungkin menganggapnya galau. Galau kini seolah menjadi terminologi untuk segala pembicaraan terkait konsepsi hubungan, miris. Beberapa lainnya mungkin antusias, seolah mewakili gejolak yang ada di dalam hatinya. Selebihnya, mungkin tak peduli.

Menjadi hal yang wajar, di rentang usia sepertiku, konsepsi terkait hubungan terutama dalam konteks pernikahan sedang ramai dibicarakan. Tulisan ini hadir bukan untuk membangun kegelisahan yang merisaukan, namun mencoba menjadi salah satu sarana kecil membangun persiapan dan sedikit refleksi untuk ku, kamu, dan setiap kita yang sedang , akan, atau telah membangun pernikahan.

Ingin mengawali bahasan dari fenomena yang cukup menarik perhatianku. Beberapa orang yang aku kenal memilih menikah di usia sangat muda, ketika duduk di bangku perkuliahan tingkat 1, 2, 3, 4 hingga masa-masa koas. Sebaliknya, beberapa orang lain yang aku kenal memilih menikah di usia yang cukup matang, selaras dengan pencapaian dan kemapanan kariernya. Fenomena tersebut menjadi sebuah kondisi yang wajar memang. Hal yang kemudian menjadi tak wajar adalah ketika satu sama lain saling membanggakan dan memengaruhi orang lain terkait usia pernikahan mereka. Bahwa menikah muda itulah yang terbaik. Atau justru sebaliknya, kalangan yang menikah di usia matang mencibir mereka yang menikah muda seolah gegabah, terlalu tergesa-gesa. Lantas, manakah yang lebih baik?

Terlalu dangkal menurutku jika kebaikan sebuah pernikahan sekadar dilihat dari segi usia kapan mereka melangsungkan pernikahan. Bagiku, keputusan menikah muda maupun menikah di usia matang keduanya sama-sama baik, sama-sama hebat, tergantung konteksnya.

Menikah muda dengan alasan telah siap lahir batin, menyambung tali kasih sayang, menjaga kesucian dan menjaga kehormatan diri, menghasilkan banyak anak-anak hebat di kondisi orangtua yang masih produktif dan sehat tentu alasan yang tepat. Menikah nanti dengan alasan merasa belum mampu untuk menambah tanggung jawab dan merasa masih mampu menahan gejolak hasratnya sehingga memilih untuk terus mengisi dan memperbaiki diri terlebih dahulu, itu pun baik, sama-sama hebat.

Pernikahan itu bukanlah sebuah perlombaan. Jadi tidak tepat sebenarnya jika masih ada terminologi 'terlambat menikah' ataupun 'terlalu cepat menikah'. Seharusnya semua orang paham bahwa jodoh adalah rahasia Tuhan. Sayangnya, tetap saja banyak yang masih punya definisi tentang ‘terlambat menikah’, atau sebaliknya ‘terlalu cepat menikah'. Tidak ada standar kapan harus menikah, karena semua orang khas. Jika tiba masanya, maka pasti akan terjadi, begitu pikirku.

Mungkin kita sadar, banyak sekali buku di pasaran yang bertujuan mengajak pembacanya menikah muda. Begitu pula acara-acara seperti seminar, talkshow, yang tema nya tak jauh dari menikah muda pun ramai di datangi. Marketnya siapa lagi kalo bukan anak muda. Karena banyak peminatnya, maka menjadi logis buku dan acara-acara ber genre menikah muda ramai kini kita temukan.

Tak ada yang salah sebenarnya dengan buku atau acara terkait dengan ajakan menikah muda. Hal ini pun aku pikir muncul sebagai solusi atas keprihatinan akan kondisi anak muda masa kini. Daripada terpaut dengan hubungan yang aneh-aneh dan tidak jelas, alangkah lebih baiknya diarahkan untuk menuju hubungan pernikahan. Begitu mungkin simpulan yang aku dapat.

Kalau kita lihat positifnya, para anak muda mungkin akan termotivasi untuk menikah. Termotivasi mempersiapkan kondisi lahir batin untuk bersanding dengan sang pujaan hati. Yang tadinya malas belajar jadi semangat belajar. Yang santai-santai saja mencari penghasilan, jadi semangat dalam bekerja.

Nah, lalu kalau dilihat negatifnya? Aku khawatir semangat menikah begitu menggelora di dada. Hanya terpesona pada kenikmatan yang di dapat dalam pernikahan, namun belum ada persiapan apa-apa. Jangan sampai kita lupa bahwa menikah dikatakan menyempurnakan setengah agama dikarenakan berat perjalanan yang akan dilaluinya. Memiliki persiapan yang cukup, mutlak menjadi keharusan. Bukankah gagal mempersiapkan berarti mempersiapkan kegagalan?

Tidaklah cukup menikah dengan hanya beralasan keinginan untuk melindungi dan dilindungi, keinginan untuk disayang dan menyayangi, diperhatikan dan memperhatikan, ditemani dan menemani atau sejenisnya. Menikah bukan perkara sesederhana itu. Menikah adalah perkara tanggungjawab. Siapkah kita menjalani tanggungjawab itu?

Disegerakan, namun bukan tergesa-gesa. Mari kita alihkan energi cinta kita bukan untuk sekadar melihat, bukan hanya untuk memikirkan tentang dirinya yang terbaik bagi kita. Namun untuk mempersiapkan. Meningkatkan kualitas diri. Bukankah memperbaiki diri berarti memperbaiki jodoh? Hal ini berlaku tak hanya untuk laki-laki yang akan menjemput takdir jodohnya. Begitupun dengan perempuan,jangan sampai menunggu hanya digunakan untuk menutupi ketidaksiapan dan membebankan seluruhnya kepada para lelaki.

Lalu bagaimana mengenai perkara seseorang yang senantiasa berusaha meningkatkan kualitas diri, namun masih saja mendapat penolakan dalam menemukan pasangan? Jika benar sudah meningkatkan kualitas diri, menurutku ia tak merugi. Justru yang merugi adalah yang menolak, karena ia kehilangan orang yang serius membangun titik temu dengannya, untuk menggenapkan agama dengan cara yang baik, sedangkan orang yang ditolak hanya kehilangan orang yang memang tidak serius membangun titik temu dengan dirinya.

Jangan risau tentang masa depan, termasuk konteks menemukan pasangan, semuanya ada dalam genggaman Allah. Risaulah jika saat ini kita tidak serius mendekatinya. Sertakan Allah dalam perjuanganmu, karena jodoh itu bukan perkara ada yang suka pada kita atau ingin menikah dengan kita. Ternyata jodoh ialah saat Allah mengerakkan hati dua manusia untuk kemudian berkata ‘Ya Kami siap menikah.' Jangan terlalu khawatir, kekhawatiran tak menjadikan bahayanya membesar. Hanya dirimu yang semakin mengerdil. Tenanglah, semata karena Allah bersamamu. Maka, tugasmu hanya berikhtiar! Kelak waktu yang menjadi jawaban atas takdir masa depan kita. Bicara tentang waktu, waktu nampaknya akan terasa lambat bagi mereka yang menunggu, terlalu panjang bagi mereka yang gelisah, dan terlalu singkat bagi mereka yang bahagia, namun waktu akan terasa abadi bagi mereka yang mampu bersyukur. Untuk itu bersyukurlah. Syukur bukan hanya perkara terima kasih atas apa-apa yang sudah Allah berikan, melainkan juga tentang berbaik sangka pada Nya. Berbaik sangkalah!

Lalu untuk kita yang sudah menemukan pasangan, atau 'calon' pasangannya. Tanggung jawab tak sekadar mencari nafkah bagi lelaki dan mengurus rumah tangga bagi perempuan. Hal seperti itu tentulah lumrah dibicarakan. Hal lain yang perlu juga mendapat perhatian ialah tentang bagaimana menerima pasangan kita dengan sempurnaSadarilah, bahwa kita tidak pernah bisa menuntut siapapun sempurna, karena sejatinya kesempurnaan adalah kekurangan yang senantiasa diperbaiki, perbedaan yg senantiasa disatukan, perasaan saling yang membuat segalanya tergenapi.Belajarlah untuk senantiasa memahami pasangan kita. Semakin tinggi tingkat pengenalan seseorang kepada sesuatu yg dicintainya maka sesuatu yang harusnya pahit bisa menjadi manis. Engkau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya dan mencoba menjalani hidup dengan caranya. Kelak ketika kau menemukan kekurangannya, cintailah itu. Karena ketika engkau sudah bisa mencintai kekurangannya, kelak ketika kau menemukan kelebihannya, engkau akan semakin mencintainya. Dan cinta, itu akan menguatkan jiwa yang lemah, bukan melemahkan jiwa yang kuat. Ia bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan, bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan, bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat. Karena itu, untuk ia yang memutuskan untuk mencintai, ia harusnya tak lagi berjanji, melainkan membuat rencana untuk memberi.

Ah bicara tentang cinta dalam konsepsi hubungan nampaknya jadi hal biasa. Lalu bagaimana dengan cemburu? Suatu hal di jaman kita sekarang yang dianggap ekstrim-fanatik, dan lain-lain? Cemburu bagiku terdefinisi sebagai ketidaksenangan seseorang untuk disamai dengan orang lain dalam hak-haknya, dan itu merupakan salah satu akibat dari buah cinta. Maka tidak ada cemburu kecuali bagi orang yang mencintai. Dan cemburu itu termasuk sifat yang baik menurutku, bagi laki-laki maupun perempuan.

Adapun kecemburuan seorang laki-laki pada keluarga dan kehormatannya, itu menjadi keharusan. Karena dengan adanya kecemburuan, akan menolak adanya kemungkaran di keluarganya. Ambil lah contoh kecemburuan dia pada istri dan anak-anaknya, yaitu dengan cara tidak rela kalau mereka terbuka hijabnya di depan laki-laki yang bukan mahramnya, bercanda bersama mereka, hingga seolah-olah laki-laki itu saudaranya atau anak-anaknya.

Sesungguhnya Rasulullah Saw telah mensifati seorang laki-laki yang tidak cemburu pada keluarganya dengan sifat-sifat yang jelek, yaitu ‘Dayyuuts’. Sungguh ada dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabraani dari Amar bin Yasir r.a, serta dari Al-Hakim, Ahmad dan Baihaqi dari Abdullah bin Amr r.a, dari Nabi Saw bahwa ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga yaitu peminum khomr, pendurhaka orang tua dan dayyuts. Kemudian Nabi menjelaskan tentang dayyuts, yaitu orang yang membiarkan keluarganya dalam kekejian atau kerusakan, dan keharaman. Begitulah sisi lain cemburu dalam konsepsi sebuah hubungan.

Hal lain yang mendasari konsepsi hubungan, terutama bagi yang sudah menemukan pasangannya, ialah perkara komitmen. Berperasaanlah dengan komitmen, atau berkomitmenlah dengan perasaanmu.Komitmen adalah kunci pembuka pintu mimpi agar hadir menjadi kenyataan. Komitmen adalah sesuatu yang akan membuat seseorang memikul resiko dan konsekuensi dari keputusannya tanpa mengeluh, dan menjalaninya dengan penuh rasa syukur sebagai bagian dari kehidupan yang terus berproses. Komitmen yang membuat segalanya mengalir seperti kemauan kita, karena melalui komitmen kita mampu mengendalikan semua hal menjadi lebih baik. Karena komitmen adalah totalitas sebuah perjuangan.

Sungguh terhormat setiap kita yang memegang teguh komitmennya, menjaga kesetiannya. Senantiasa berhati-hati menjaga hatinya. Mata dan telinga merupakan pintu, dan hati merupakan rumahnya. Untuk itu, senantiasa kawal apa saja yang masuk melalui pintu agar rumah kita selamat, agar hati kita selamat, bersetia pada hati. Ingat bahwa Allah mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. Untuk itu, jaga mata, jaga hati, jaga sikap. Ada yang bilang, katanya suci perempuan karena menjaga diri, gagah laki - laki sebab menepati janji. Itupun manifes dari komitmen, begitu pikirku.

Lalu bicara tentang konsepsi hubungan dalam konteks pernikahan, tentulah erat kaitannya dengan bahasan menjadi orang tua. Bagiku, cara kita mengajari anak-anak kita tentang keshalihan, bahkan jauh sebelum mereka dilahirkan adalah dengan cara memilih ibu yang baik untuk mereka. Itu titik tolaknya, itulah mengapa kemudian proses memilih pasangan menjadi hal penting yang begitu diperhatikan, untuk kemudian sama-sama bertumbuh menjadi orang tua paripurna, yang memberikan pendidikan bagi anak-anaknya di madrasah yang tanpa libur dan tanpa jeda, di rumahnya. Tempat di mana mereka belajar bukan hanya dari apa yang terucap, tapi apa yang dilakukan oleh ayah bundanya. Orangtua adalah guru yang sebenar-benarnya. Mereka digugu, ditaati karena integritas di hadapan anak-anaknya. Dan ditiru, karena memang semua perilakunya membanggakan untuk dijadikan identitas.

Aku masih ingat dulu tentang masyarakat yang punya tingkat saling percaya amat tinggi di jaman Rasul tentang peran orang tua, terutama ayah. Dulu kalau mau menikahi Hafshah, tak perlu berkenalan dengan Hafshah. Lihatlah saja ’Umar, bapaknya. Nah, Hafshah kurang lebih ya seperti bapaknya. Kalau mau menikah dengan ’Aisyah, tak perlu engkau mengenal ’Aisyah. Coba perhatikan Abu Bakr. Nah, ’Aisyah tak beda jauh dengannya. Maka dalam gelar pun mereka serupa; Abu Bakr dijuluki Ash Shiddiq, dan ’Aisyah sering dipanggil Ash Shiddiqah binti Ash Shiddiq. Begitupun aku, ingin rasanya seperti itu, bisa memberikan kebaikan pada anak-anak ku dengan integritas kebaikan yang melekat pada ayahnya. Itulah mengapa bagi setiap laki-laki, menjadi ayah yang baik menjadi hal mutlak yang perlu diperjuangkan, peran nya begitu besar dalam menjalankan tanggung jawab pendidikan anak-anak nya. Lalu bagaimana dengan perempuan? Jangan sampai engaku lupa, dibalik suami yang hebat terdapat wanita hebat yang senantiasa mendampinginya, ia adalah istri. Dan dibalik anak yang hebat terdapat wanita hebat yang senantiasa mendo’akanya, ia adalah ibu.

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah bersabda, “3 orang yang akan selalu diberi pertolongan oleh Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah, seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya” (HR. Thabrani)


Dinda, ingin rasanya aku raih pertolongan Allah dengan menjadi ketiganya. Menikahimu, adalah keberanian menentukan sikap, bukan menunggu waktu hingga datang kedewasaan bersikap, menuju Mitsaqan Ghaliza, perjanjian yang kokoh yang dalam Al Qur'an kata mitsaqan ghaliza hanya dipakai 3 kali saja, yakni ketika Allah SWT membuat perjanjian dengan para Nabi, Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa (Al Ahzab 73:7), ketika Allah SWT mengangkat bukit Thur di atas kepala bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia pada Allah (An Nissa 4:154) dan ketika Allah SWT menyatakan hubungan pernikahan (An Nissa 4:21).

Kupilih dirimu, karena aku yakin engkau mampu menggenapi kekuranganku menjadi kelebihan. Karena aku tahu, tak sempurna agamaku, kecuali engkau menggenapinya. Kupilih dirimu, karena engkau memiliki satu sayap yang bisa melengkapi sayapku yang hanya satu. Maka berdua kita mengepakkan sepasang sayap menuju surga; impian kita bersama.

Dinda, ketika kini pada akhirnya kita bertemu, yakinlah bahwa itu bukan kebetulan. Sebab bagaimanapun, langkah kita akan saling tertuju, langkahku ke arahmu, langkahmu ke arahku. 



*tulisan yang juga menjadi kado, untuk yang sedang rindu, merencanakan, akan melangsungkan, atau baru saja menjalankan pernikahan. Celoteh kecil dari pribadi yang sedang belajar, untuk menasihati setidaknya dirinya sendiri.*

Bahagia Itu Sederhana ??


Banyak orang berkata bahwa bahagia itu sederhana. Ya sederhana, karena bahagia itu terkadang memang bukan melulu tentang kita yang mengalami, begitu pikirku. Bahagia bisa dengan melihat orang lain senang atas apa yang kita berikan kepadanya. Pemberian bukan untuk mendapatkan imbalan selanjutnya. Tapi untuk membuktikan bahwa hati ini terikat. Terikat perasaan karena pertemanan, persahabatan, atau kekeluargaan. Bahkan ukuran bahagia bagi salah seorang teman yang sudah menikah jauh lebih sederhana, sesederhana ia menyentuh tangan pasangannya tanpa harus membatalkan wudhunya, begitu katanya. Ini hanya sekadar contoh, tak usahlah menjadi galau setelahnya. 

Sengaja aku ambil contoh ekstrem, karena aku yakin semua orang punya definisi bahagianya sendiri. Tak selalu orang kaya itu jauh lebih bahagia dibandingkan dengan orang miskin. Dan bisa jadi, justru saudara-saudara kita di Palestina lebih bahagia dibanding kita yang berada di Indonesia. Menjadi bahagia, bukanlah karena sikap orang lain yang menyenangkan atau menyakiti kita. Tetapi menjadi bahagia adalah karena pilihan kita sendiri untuk menjadi bahagia. Semua ingin bahagia, namun tidak semuanya berusaha melakukan sebab-sebab bagi tercapainya bahagia. Sesungguhnya ada banyak kunci menuju bahagia. Belajar berbahagia, ini yang ingin sama-sama aku pelajari bersamamu. Ada banyak jalan manjadikan sisa usia kita selalu berbahagia. 

Mengenal Allah (Ma'rifatullah) 

Menurut Imam Al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ma'rifatullah", telah mengenal Allah SWT. Imam All-Ghazali menyatakan:

"...kebahagiaan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kebahagiaan telinga mendengar suara yang merdu, adapun kebahagiaan hati ialah ma'rifat kepada Allah, karena hati dijadikan tidak lain untuk mengingat Tuhan. Seorang rakyat jelata akan sangat gembira kalau dia dapat berkenalan dengan seorang pejabat tinggi atau menteri; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan dengan yang lebih tinggi lagi misalnya raja atau presiden. Maka tentu saja berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala macam kegembiraan. Lebih dari apa yang dapat dibayangkan  oleh manusia, sebab tidak ada yang lebih tinggi dari kemuliaan Allah. " 

Ma'rifalullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan, bahwa tiada Tuhan selain Allah. Untuk itulah, untuk dapat meraih kebahagiaan yang abadi, manusia wajib mengenal Allah. Caranya, dengan mengenal ayat-ayat-Nya, baik ayat kauniyah maupun ayat qauliyah. Yuk sama-sama belajar! :) 

Iman Kepada Allah dan Beramal Shaleh 

Allah berfirman “Siapa saja yg beramal kebajikan baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman maka Aku akan hidupkan mereka dalam kehidupan yg baik.” “Siapa saja beriman kepada Allah dan hari Akhir serta beramal shaleh mereka tidak pernah takut dan tidak pernah bersedih.” . Abu Yahya Shuhaib bin Sinan Ra. meriwayatkan Rasulullah Saw. bersabda “Sungguh mengherankan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya segala urusannya baginya memberikan kebaikan hal ini tidak dimiliki oleh seorangpun melainkan oleh seorang mukmin. Bila mendapatkan harta atau kesuksesan selalu bersyukur maka jadilah itu kebaikan baginya dan bila mendapatkan kesengsaraan dia selalu bersabar dan itupun menjadikan kebaikan baginya.” 

Seolah normatif memang,  namun coba kita sedikit telaah cerita tentang Ibnu Taimiyah. Ketika diinterogtasi di Damaskus dengan berbagai bentuk penyiksaan yang keji, Ibnu Taimiyah Rahimahullah malah mengatakan “Apa yg diperbuat musuh-musuhku itulah surgaku, penjara bagiku adalah tempatku menyepi, dan penyiksaan terhadapku itulah syahadahku, sedang pengusiran terhadapku itulah tamasyaku.” Ucapan ini tentu tak akan keluar kecuali dari seorang yang benar-benar telah menghujam kuat imannya di dalam dada. 

Atau cerita lain, mengenai Bilal bin Rabah yang merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Para sahabat nabi, rela meninggalkan kampung halamannya demi mempertahankan iman. Mereka bahagia. Hidup dengan keyakinan dan menjalankan keyakinan. Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati yang dipenuhi dengan keyakinan (iman) dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu.  

Beriman kepada Qadha dan Qadar

Musibah, rezeki, jodoh, semua adalah ketetapan Nya. Baik dan buruk, semua adalah kehendak Nya. Bayangkan, akan menjadi setertekan apa ketika setiap kita tidak mengimani Qadha dan Qadar, mengingkari bahwasanya semua adalah ketetapan Nya. Orang yang bahagia itu bukanlah orang yang selalu mendapatkan kesenangan, sebaliknya orang yang celaka itu bukanlah orang yang selalu dirundung duka. Namun, orang yang berbahagia itu adalah orang yang mampu menyikapi berbagai hal yang menimpanya, baik itu kesenangan maupun duka nestapa dengan sikap diri yang penuh husnuzan (baik sangka) kepada Allah. Percaya bahwa semua adalah ketetapan Nya, dan hal tersebut yang terbaik bagi kita. Artinya, kalaupun ditimpa musibah yang besar, ia akan merasakan kebahagiaan karena ia meyakini bahwa musibah ini adalah sebagai bentuk dari kasih sayang Allah dengan memberikan satu peringatan kepadanya, menjadi jalan penggugur atas dosa-dosanya.  

Oleh karena itu, dengan mendidik, membersihkan dan menyucikan jiwa akan menjadikan kita mengetahui apa yang harus dilakukan ketika mencari sesuatu yang diinginkannya dan mengetahui sikap apa yang harus dilakukannya dalam menyikapi hasil yang diperolehnya. Dengan demikian, sikapnya selalu sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. 

" Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."  (QS. Al-Baqarah: 216) 

Yakinlah apa saja yang diberikan kepadamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannva, dengan demikian disana kan kau temukan bahagia.

Banyak Dzikir dan membaca Al Qur’an  

Allah berfirman “Ketahuilah dengan dzikir kepada Allah hati menjadi tenteram.” Orang yg selalu dzikir dan ingat kepada Allah akan bahagia dan tenang hatinya. Sedangkan orang yang berpaling dari ingat kepada Allah maka ia akan hidup dalam kesusahan dan kesedihan. “Dan siapa saja yang berpaling dari ingat kepada Tuhan yang Pemurah niscaya kami tentukan baginya setan, maka jadilah ia teman yang tidak terpisah baginya.” “Dan siapa saja yg berpaling dari dzikir kepada Aku maka adalah baginya penghidupan yang sempit dan kami akan kumpulkan dia pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” “Maka kecelakaan bagi mereka yang beku hatinya dari mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Az Zumar 220) 

Terkait dengan mengingat Allah dan ketenteraman hati, sudah pernah kubuat kajiannya dengan pendekatan psikomedis, silakan kembali lihat catatannya :). Kelapangan dada dan mencarinya termasuk tanda-tanda kebahagiaan dan sifat orang-orang yg berbahagia. 

Berbagi, Berbuat Baik kepada Manusia 

Nampaknya menjadi sebuah fakta yang tak berlebihan jika orang yang suka berbuat baik kepada manusia menjadi orang yang banyak berbahagia serta diterima hidupnya di atas bumi. Kebahagiaan adalah ketika ketika kita dapat melakukan lebih banyak hal untuk lebih banyak kebahagiaan orang lain, bahkan saat diri ini tidak lagi dapat membahagiakan dirinya sendiri. 

Lihatlah jiwa- jiwa yang ikhlas itu, yang diciptakan Allah di dunia seperti pabrik kebahagiaan yang siap disebar luaskan untuk mendamaikan hati, dan meluaskan dada sesamanya yang terasa sempit karena cobaan hidup. Dalam hati mereka pun berbisik, tak apa jika mereka menghabiskan banyak waktu mengurus kepentingan demi kebahagiaan orang lain, dan Insya Allah sebagai balasannya, Allah yang akan mengurus kepentingan dan membahagiakan mereka. 

Kebahagiaan adalah kepuasan batin atas tercukupinya kedamaian bagi orang lain. Dan ketika kita mencoba mendamaikan orang lain, bukankah dengan terlebih dahulu kita mengkondisikan hati dan pikiran kita agar terlebih dahulu terkondisikan? Dan setelah itu, bukankah juga kedamaian akan menjadi hak kita? 

Memandang Urusan Dunia Lebih Rendah Daripada Urusan Akhirat 

Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda “Lihatlah orang-orang yang di bawah kamu dan janganlah kamu melihat kepada orang yang lebih tinggi dari kamu. Maka hal itu akan lebih pasti untuk meremehkan nikmat Allah.” . Ini adalah dalam urusan keduniaan karena bila kita ingat ada orang yang lebih rendah dari kita maka kita akan mengetahui betapa besar nikmat Allah yg diberikan kepada kita.  

Adapun dalam urusan akhirat, maka hendaknya kita melihat kepada orang-orang yang lebih tinggi dari kita agar kita sadar akan kelemahan dan kekurangan kita. Jangan kita melihat orang yang hancur dan sebab-sebab kehancurannya tetapi lihatlah orang yang selamat dan bagaimana keselamatan itu diraih. Dengan  ini kita akan selalu berbenah, bertumbuh, menjadi lebih baik. 

Bersabahat dengan Orang Shalih

Memilih sahabat menentukan kebahagiaan, ilmu dan masa depan. Karena dari mereka kita bisa dapatkan kebaikan atau keburukan. Memilih sahabat yang shalih, aku yakin akan senantiasa membawa kebaikan. Memilih sahabat yang shalih, bagiku itu menenteramkan, membawa ketenangan, menumbuhkan, dan membawa kebahagiaan. 

Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang shalih. Orang-orang yang shalih akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-orang shalih adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang shalih.

Mampu Memaafkan

Ibrahim Ataimi berkata “Sesungguhnya ada seorang laki-laki mendzhalimiku maka aku mengasihinya.” Diriwayatkan juga ada beberapa ulama dan juga banyak orang yang berbuat jahat kepada Ibnu Taimiyah sehingga beliau dipenjarakan di iskandariyah. Setelah keluar dari penjara ada yg bertanya adakah kamu ingin membalas orang yang berbuat jahat padamu? Beliau menjawab,  "aku bebaskan siapa saja yang telah berbuat zhalim kepadaku dan aku maafkan."  Ibnu Taimiyah telah membebaskan semuanya karena beliau tahu hal itu akan membuatnya bahagia di dunia dan akhirat.

Atau cerita lain, seorang sahabat Rasul mendengar ada seorang yang ghibah atas dirinya. Maka sahabat tadi memilih suatu hadiah yang menarik, ia kemudian pergi kepada orang yang berbuat ghibah itu dan diberikannya hadiah tadi. Ketika ditanya tentang sebab pemberian hadiah itu ia menjawab, Rasulullah Saw. bersabda “Siapa saja yang berbuat kebajikan atasmu maka berilah dia imbalan." Sesungguhnya anda telah memberikan hadiah kepadaku dari kebajikanmu sedangkan aku tidak punya kebajikan yang dapat aku berikan padamu kecuali kebaikan dunia. Maha Suci Allah.

Selalu Kembali Kepada Allah dan Berdo’a Kepada Nya 

Rasulullah Saw. telah meneladankan semua itu, diantaranya beliau berdo’a “ Ya Allah perbaikilah aku dalam beragama karena dengan agama itu menjadi ishmah bagi segala urusanku, perbaikilah pula duniaku yg merupakan penghidupanku. Perbaiki pula akhiratku yang akan menjadi tempat kembaliku, jadikanlah hidup ini tambahan bagiku dengan berbagai kebaikan serta jadikanlah kematianku sebagai tempat istirahatku dari segala keburukan.” Beliau juga senantiasa berdo’a “ Ya Allah rahmat Mu aku harapkan. Janganlah Engkau tanggungkan kepada diriku sendiri meski hanya sejenak dan perbaikilah seluruh keadaanku semuanya, tidak ada Tuhan yg berhak disembah kecuali Engkau.” 

Hanya Allah lah tempat bergantung, tempat kembali, maka mohonlah kepada Nya, berdoalah kepada Nya, karena Ia akan mengabulkan doa orang yang berdoa kepada Nya, Ia dekat kepada siapa yang mendekatkan diri kepada Nya. Jangan sampai diri ini teramat sombong, merasa menemukan kebahagiaan tanpa senantiasa kembali pada Nya. Dengan kehendak Nya, Allah mampu mencabut atau menambah nikmat dan kebahagiaan yang kita rasakan dengan mudahnya. Maka, senantiasalah kembali dan berdoa pada Nya. Mudah-mudahan kita mendapat kebahagiaan yang sesungguhnya bukan angan-angan juga bukan sekedar pembicaraan. Dan kepada Allah lah segala urusan kita kembalikan. 

Dalam kondisi apa pun, maka " bahagiakanlah hatimu! " Jangan pernah bersedih. Jika engkau kaya, bahagiakanlah  hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit melalui hartamu. Dan jika engkau fakir miskin, bahagiakan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang sering menimpa orang-orang kaya. Bahagiakanlah  hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepadamu lagi, lantaran kemiskinanmu. Jika engkau dilupakan orang, kurang masyhur, bahagiakan pulalah hatimu! Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacimu. Mudah-mudahan. Allah mengkaruniai kita ilmu yang mengantarkan kita pada sebuah keyakinan dan kebahagiaan abadi, dunia dan akhirat. Aamin. 

Kesederhanaan bahagia, kemudian disimpulkan dalam kata 'syukur'. Seseorang bahagia bukan karena selalu mendapatkan yang terbaik di hidupnya, tapi karena selalu bersyukur atas apa yang hadir di hidupnya. Syukur itu, bukan tentang seringnya bernasib baik. Syukur itu tentang berbaik sangka kepada Allah.

Bersamamu, mari kita jemput keutamaan bahagia pada sisa usia kita. Menterjemahkan hal-hal sederhana kedalam bingkai bahagia, dengan selalu menghadirkan kebersamaan Sang Pencipta Bahagia dalam keutuhan makna. :)

Kita dan Rasa Sepi Seorang Ibu

Mengambil hikmah di seberang waduk Jatiluhur, Purwakarta. Berkisah tentang perburuan janda jompo di Parang Gombong, untuk disantuni, diperiksa kesehatannya dan diobati. Menjajal malam dari rumah ke rumah, satu jompo ke jompo lainnya. Belajar tentang rindu, itu salah satu makna yang bisa kuikat malam itu.

Berawal dari pertemuanku dengan (sebut saja namanya) Nenek Ucuk, salah satu janda jompo yang kutemui dari 8 orang yang akan dikunjungi. Kediamannya hanyalah rumah panggung, kecil, berbentuk satu kamar, dengan penerangan luar yang tak terlalu terang. Tak pernah kubayangkan sebelumnya respon yang muncul dari beliau saat aku ketuk pintu rumahnya. Dengan tubuhnya yang renta, saat beliau keluar dan melihat kami, ia langsung menangis. Teriak, menangis histeris, haru. Tak pernah sebelumnya ada yang mau peduli dengannya, mengunjunginya, bertatap dengannya, bahkan sekadar duduk di teras rumahnya. Begitu tutur beliau sambil sesekali memeluk, merangkul, dan menggengam tangan kami disela-sela cerita dan tangisnya.

Nenek Ucuk, seorang yang hidup lebih dari 75 tahun ini masih sempat merasakan masa penjajahan Belanda dan Jepang. Ia masih sempat menyaksikan banyak penyembelihan kepala manusia pada masanya. Ia yang pernah menyembunyikan anak-anak laki-laki seusiaku dulu dari kejaran penjajah di rumahnya. Kini hidup seorang diri, walaupun ia punya beberapa anak dan cucu. Kesehariannya hanya makan nasi dan kecap dua kali sehari, dan minum dengan air teh manis. Pekerjaannya, hanyalah pengumpul karung-karung bekas. Yang tak kalah menyedihkannya adalah ketika warga sekitar melarang anak-anak kecil mereka bermain di sekitaran rumah Nenek Ucuk ini. Selalu mereka ditakut-takuti bahwa rumah Nenek Ucuk ini adalah 'Sarang Babi'.

Menyaksikan rasa sepi seorang ibu. Itu yang pertama terlintas di benakku saat melihat sang Nenek menangis ketika kami kunjungi, ketika ia sadar bahwa masih ada yang peduli. Berpisah dengan anak, keluarga saja sudah meninggalkan rasa sepi yang gersang pikirku, apalagi jika ditambah harus dikucilkan dari lingkungan. Aku bisa merasakan refleksi yang serupa, akan perasaan mendasar tentang rindu seorang ibu akan anaknya, keluarganya malam itu. Rasa sepi ibu itu naluri yang sangat khas.

Melihat realita tersebut, ditengah padatnya rutinitas yang sering menguasai diri kita, kita perlu sejenak berbicara dengan hati sendiri tentang seperti apakah kiranya hari ini keadaan ibu kita. Rasanya tak berlebihan bila sejenak kita perlu berbicara dengan perasaan kita, adakah rasa sepi kiranya tengah bergelayut di hati ibu kita??

Suatu waktu dalam hidup kita, ibu kita pun adalah ibu yang kesepian. Merindukan kita yang mulai asyik dengan diri kita sendiri. Kita mulai membangun cara pandang berbeda, cita rasa berbeda, dan bahkan mencari alasan yang terlalu rumit untuk merasa tidak bisa memahami seorang ibu secara apa adanya. Di usia kita yang belum terlalu tegak menjadi lelaki atau perempuan dewasa, ibu kita masih dan akan selalu berkata, "Hati-hati nak." Dan terkadang kita banyak menjawabnya dengan " Sudah mengerti bu, aku sudah besar."

Kita dan orang tua memang ditakdirkan lahir di generasi yang berbeda, menghuni zaman yang tak serupa, mengalami perubahan-perubahan budaya yang tak sama, sehingga terkadang muncul perbedaan-perbedaan yang membuat komunikasi orang tua dan anak tak sepaham, kehendak yang tak seiring, dan pikiran yang tak sejalan. Kondisi seperti ini seringkali mewariskan rasa sepi di kehidupan orang tua. Bukan karena mereka ditinggalkan, tapi karena ada keinginan yang tak dapat dipahami oleh anaknya. Ibu kita yang umumnya lebih banyak menghabiskan hari-harinya di rumah memang kadang gagal menangkap dan memahami perubahan yang terjadi pada pribadi dan lingkungan anaknya, perubahan yang tidak disertai kedewasaan dan kemampuan menghormati sebagaimana seharusnya.

Suatu masa dalam hidup kita, ibu kita adalah ibu yang menahan rindu. Menanti bertemu dengan anak-anak yang mulai terasa tak lagi membersamainya. Jangankan  bagi yang tak serumah karena harus merantau belajar, bahkan sebagian kita yang tinggal satu atap dengannya tak jarang seperti hidup dalam dunia yang berbeda. Kita dekat tetapi jauh.

Suatu ketika dalam hidup kita, ibu kita adalah ibu yang mencintai kita dengan segenap perasaannya yang dulu, tidak berubah. Sama kuatnya, sama tulusnya. Suatu saat dalam hidup kita, ibu kita adalah ibu yang tak lelah berharap dan berdoa untuk kita. Bahkan bila pun kita menganggap diri kita telah menjadi sesuatu. Sementara kita terkadang tumbuh dalam keangkuhan-keangkuhan, yang bersama itu mungkin cara kita memahami perasaan ibu kita pun sering berubah.

Sadarilah, bahwa sepi adalah jejak waktu yang tentu saja tak memberi rasa nyaman. Apalagi kita tak bisa tahu kapan ia akan berakhir. Dan seorang ibu adalah sosok yang mungkin sangat sering mengalami itu dalam hidupnya, meski mungkin kita kadang tak menyadari itu sebagai seorang anaknya. Sekali lagi, mari sejenak kita coba renungkan, bicara soal keadaan orang tua. Soal rasa sepi yang seringkali menerpa hidupnya. Saat kita masih punya kesempatan untuk membalas budi mereka, melakukan yang terbaik untuknya. Untuk ibu yang pengorbanannya tak terhingga. Agar jangan sampai ada kata "menyesal" di kemudian hari.

Mungkin kita juga adalah salah seorang anak yang telah membuat ibu merasa sepi, karena meninggalkannya untuk sementara, demi mengejar cita-cita. Hari ini, entah dimanapun setiap kita berada, mari sejenak bicara tentang rasa sepi ibu yang terus menyimpan cinta dan kasihnya pada kita sampai kapan pun. Mari sejenak kita merenungkan keadaannya, di kala kita sedang jauh dari sisinya. Apakah yang sedang dia lakukan kini?? Sesekali obati rasa sepinya dengan rela meninggalkan kesibukkan untuk sesaat pulang menemuinya, mencium tangannya. Atau terkadang, cukup dengan suara saja ibu telah merasa puas. Sebab terkadang dengan sepatah kata sapaan dari kita yang terdengar dari ujung telepon, telah membuatnya bahagia yang tak terkira.

Ibu memang selalu merindukan kita. Sangat merindukan kita. Sampai kapan pun. Gambar wajah kita selalu hadir di benaknya, bermain-main di pelupuk matanya. Dia selalu melempar ingatannya ke masa-masa lalu yang indah ketika kita masih bersamanya, mengenang segala tingkah lucu kita yang menggores kesan indah di hatinya. 

Sukses seorang anak tentunya memberi rasa bangga dan puas di hati seorang ibu. Kelelahan selama bertahun-tahun yang dia alami, akan berakhir tanpa bekas manakala dia melihat anak-anak yang dibesarkannya dengan penuh cinta hidup dalam kemudahan dan keadaan yang lebih baik dari kehidupannya sendiri.

Tetapi tentu bukan hal itu yang paling membahagiakan seorang ibu. Selain kesuksesan dan keberhasilan, seorang ibu sangatlah ingin melihat anak-anaknya tumbuh menjadi orang-orang shalih, berbakti dan berakhlak mulia. Itulah yang paling membahagiakan orang tua. Tak ada yang paling menyenangkan hatinya dan menentramkan jiwanya selain melihat mereka tumbuh dalam ketaatan kepada Allah swt. Terlebih ketika mereka telah berada di usia yang semakin senja, selalu ada harapan agar anaknya kelak tetap mengenangnya setelah kepergiannya, dalam doa dan munajatnya, memohonkan ampun untuknya.

Rasa sepi yang paling dahsyat akan dirasakan seorang ibu ketika ia tak menemukan keshalihan pada diri anak-anaknya. Saat beribadah tak ada yang menemani. Ketika berdoa tak ada yang mengamini. Di kala sakit tak ada yang mendoakan. Akhir hidupnya dihantui rasa takut akan kegagalan menuai pahala anak-anaknya.

Rasa sepi yang dialami oleh ibu tentu tak cukup hanya kita bicarakan. Sebab bicara tak akan memberi manfaat untuknya, kecuali agar ada kesadaran yang muncul dari diri kita, untuk mengenali dan mengetahui kondisi itu. Bicara tak akan mengobati rasa sepi itu. Bicara tak akan mengurangi kesendirian dan kerinduan ibu. Yang harus kita lakukan kemudian adalah merenungi apa yang telah kita berikan kepada ibu. Merenungi adalah untuk mengukur kadar perhatian kita kepadanya, agar kita bisa memberinya lebih banyak lagi, dalam hal apapun.

Selalu taatlah kepadanya, jagalah hubungan baik dengannya, hindari hal-hal yang tidak disukainya. Ajaran agama tak memberi kita ruang untuk menolak apapun perintahnya, kecuali jika perintah itu menyalahi perintah Allah dan Rasul-Nya. Tunjukanlah selalu ketaatan kepada mereka, berikanlah bakti kita kepadanya.

"Tidak ada dosa yang dipercepat adzab kepada pelakunya di dunia ini dan Allah juga akan mengadzabnya di akhirat selain (dua hal), yang pertama berlaku zhalim, dan kedua memutus silaturrahim (dengan orang tua)" HR. Bukhari
 

"Telah berkata Rasulullah saw, ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat: anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan kepala rumah tangga yang membiarkan ada kejelekan (zina) dalam rumah tangganya" HR. Hakim

Maksimalkanlah kekuatan doanya, kejarlah doanya yang tak terhijab, mintalah ketulusannya, dan rengkuhlah ridhanya.
 

" Tiga doa yang mustajab, yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya: Doa orang yang terdzalimi, doa seorang musafir, dan doa orang tua untuk anaknya " HR. Tirmidzi
 
Sepenggal kisah pertemuan dengan Nenek Ucuk di Parang Gombong ini, sekali lagi bisa menjadi sebuah refleksi mendalam bagi kita, untuk sejenak bicara tentang rasa sepi seorang ibu. Yang ditengah kesepiannya itu, ia masih senantiasa melantunkan doa bagi anak-anaknya, maupun alm orang tuanya yang sudah lama meninggal. Menjadi sebuah refleksi bagi kita yang masih diberi kesempatan hidup, di masa usia yang masih terbilang 'muda.'

*sebuah catatan pasca Bakti Sosial Parang Gombong, Purwakarta, 23 September 2012*

Jangan Cuma Baik, Tapi Harus Kuat!

Ah, hidup itu jangan diambil susah. Ngapain ngurusin orang lain, ngurus diri sendiri aja belum tentu bener. Nantilah kalo udah sukses, banyak duit, baru kesana. Lagian ada atau gak adanya kita kan gak akan ngasih perubahan signifikan buat dunia. Yang penting diri kita gak ngerugiin orang lain itu aja udah cukup.

Lagian mau jadi apa kedepan juga masih belum tahu. Tapi jangan dibawa susahlah hidup ini, nikmati aja, biarkan hidup mengalir kayak air. Gak usah terlalu kaku bikin perencanaan muluk-muluk dari jauh hari, biarkan kemauan itu datang dengan sendirinya. Yang penting muda senang-senang, tua kaya raya, dan mati masuk surga.

Monolog diatas hanyalah sebuah contoh ekstrem, yang mungkin bisa mewakili beberapa kata hati yang tak terungkapkan. Atau bisa jadi, ini potret diri yang mewakili sebagian, atau bahkan mayoritas dari kita?

Terlepas dari benar atau tidaknya opini diatas, ingin aku mengajak sedikit berkontemplasi tentang hidup. Ada kurang lebihnya sekitar tiga ratus enam puluh sendi menopang tubuh kita. Sebagaimana harta yang perlu ada sedekahnya, maka kita pun perlu bersedekah untuk sendi-sendi itu, dengan berkarya, beramal. Begitulah Rasulullah menjelaskan. Ada nafas nyawa setiap hari. Datang memastikan hidup setiap kali kita bangun pagi. Kita harus berbuat, beramal, bersedekah, demi nyawa itu. Bahkan karena kita Muslim, maka harus ada yang kita kontribusikan atas nama kemusliman itu. Begitulah Rasulullah mengabarkan. Tak heran mengapa aku sering berujar, bahwa ada hak umat dalam diri setiap kita. Tunaikanlah!.

Menyadari hal tersebut, maka memberikan manfaat adalah keniscayaan. Seperti yang pernah disampaikan Syaik Muhammad Shalih Al Munajjid, bahwa keselamatan seseorang tergantung pada seberapa besar usahanya untuk memberi manfaat kepada orang lain. Sebab itu kita wajib berbuat baik kepada sesama manusia dari segala sisi kita bisa memberi manfaat.

Menjadi yang spesial di mata seseorang yang kita cintai tentulah menjadi hal yang didambakan. Mencintai makhluk tentunya tak melebihi cinta kita pada Sang Maha Pemberi Cinta, Allah, yang menjadi alasan setiap kita mencinta. Maka tentulah, menjadi yang spesial dihadapan Allah adalah hal yang paling kita dambakan. Ia yang menang dalam perlombaan, itulah yang istimewa dihadapan Nya. Berlomba-lomba dalam kebaikan, beradu mutu dan beradu cepat dalam beramal, mencipta amal unggulan, meledakkan kemanfaatan, itu harga yang harus dibayar. Kita harus berlari mengejar takdir, juga harapan-harapan dalam perlombaan ini. Namun siapa diantara kita yang benar-benar bersungguh-sungguh?? Sebagian hanya menonton, sebagian bahkan diam dan masa bodoh. Sebagian lagi tertatih, tak kunjung mengantarkan diri pada cita-cita.

Silahkan refleksikan pada diri, sejauh mana kita masih memikirkan diri sendiri, sudah seberapa banyak kita punya mimpi, sudah seberapa besar kesungguhan kita dalam mengejar impian tersebut? dan seberapa besar dari keseluruhan pencapaian itu yang kita dedikasikan untuk umat? Adakah diri kita sudah menjadi pribadi yang bermanfaat, atau masih menjadi pribadi gamang yang jauh dari nilai kebaikan?

Bertekad, berbenah menjadi pribadi baik harusnya bukan lagi jadi pilihan, tapi keharusan. Hidup dan eksistensi seorang manusia hanya akan punya makna jika ia berhasil mencapai nilai kebaikan. Akan tetapi capaian itu bukanlah titik akhir. Kebaikan yang dimiliki dapat bertambah dan terus bertambah jika ada kekuatan yang membersamainya.

Oleh karena itu, kini menjadi baik saja tidak cukup. Kita tidak hanya perlu orang baik, tapi kita juga memerlukan orang-orang yang kuat. Karena dengan kekuatan itulah sebuah kebaikan akan menjadi tampak dan diakui otoritasnya. Kekuatanlah yang memiliki fungsi peneguhan dan penjagaan. Peneguhan terkait eksistensi, sedang penjagaan terkait keberlangsungan.

Mungkin negeri ini tidak kekurangan orang-orang baik, namun belum cukup orang-orang yang kuat, yang mau dan mampu mengambil peran-peran utama dalam kehidupan, dengan penuh azam, kemampuan, sekaligus keteguhan. Krisis orang-orang kuat dimulai dari krisis mentalitas. Bukan lantaran kita tak tahu cara menjadi orang kuat. Tapi seringkali karena kita lupa, bahwa kekuatan besar diperoleh dari akumulasi kekuatan kecil, yang dipupuk dan ditumpuk dalam satuan-satuan waktu yang terus bersambung. Bukan lantaran kita tak tahu cara menjadi orang kuat. Tapi banyak dari kita yang tidak kuat menempuh jalan untuk menjadi orang-orang kuat. Ongkos menjadi orang baik mungkin kesabaran, tapi ongkos menjadi orang kuat adalah ketekunan.

Jangan membentuk diri menjadi orang yang serba tanggung, serba tidak maksimal. Totalitas!. Bangun idealisme yang kuat, karena idealisme yang kuat akan melahirkan Kekuatan tersendiri. Ciptakan amal unggulan yang berorientasi umat dengan kapasitas dan passion kita masing-masing. Aktivitas sosial, politik, public speaking, entertaint, olahraga dll, hadirkan nilai kemanfaatan untuk umat disetiap aktivitasnya dan torehkan sejarah-sejarah kepahlawanan yang mengabdi. Pintarlah membaca peluang, dan bangunlah mimpi. Ciptakan amal unggulan yang menjadikan kita istimewa dihadapan Nya kelak.

Dibilang pencitraan, sok alim, sok idealis, dan berbagai cibiran maupun sindiran lain bahkan tekanan yang melemahkan mungkin akan hadir mewarnai perjuangan. Jangan takut, karena ketakutan dan kesusahan itu dapat menghancurkan potensi besar, dan mengubah wajah-wajah berseri dan bercahaya menjadi layu, begitulah seperti yang dikatakan Syaikh Muhammad Al Ghazali rahimahullah. Kita harus kuat, karena hanya yang kuat yang akan bertahan, dan hanya yang bertahan yang akan sampai ke tujuan. Terkadang hidup kita perlu seperti pegas, semakin ditekan maka lompatannya semakin tinggi. Begitulah seharusnya hidup, semakin ditekan kita untuk melakukan berbagai kebaikan, semakin terpacu kita untuk senantiasa mewujudkan mimpi besar kita dalam melakukan berbagai aktivitas kebaikan untuk kemanfaatan umat. Mengelola berbagai permasalahan yang melemahkan menjadi sarana pembangun yang semakin menguatkan.

Jadilah orang baik, dengan mimpi besar, kesungguhan kuat dalam mewujudkannya, miliki kekuatan bertahan, hingga menorehkan sejarah kepahlawanan yang mengabdi dan menginspirasi!

Yang harus dijawab setiap kita kemudian, peran dan kontribusi besar apa yang akan kita lakukan?? Mampukah kita jadi orang kuat yang mewujudkannya??

#coratcoretRamadhan1433H
*udah lama gk nulis,kangen :')