Menjadi Istri Yang Tak Gugur Di Dapur

Aku masih ingat betul, setiap aku pulang sekolah dulu, teriakan kedua setelah salam ketika masuk rumah adalah, " Bu, masak apa hari ini ? " . Masakan khas Ibu bagiku memang memiliki daya tarik tersendiri. Ada hal irasional yang mampu memperkuat cita rasa apapun yang dimasak Ibu. Tak heran, dulu aku hanya mau makan sayur yang dibuat ibuku, diluar itu bukan perkara mudah bagiku untuk mau makan sayuran. Melihat dari sosok ibuku, dulu aku berpikir bahwa semua ibu tentunya pintar memasak. Memasak seolah menjadi pekerjaan yang identik dengan kaum wanita. Namun semakin beranjak dewasa, aku menemui kenyataan bahwa tidak semua wanita mahir memasak, bahkan sebagian dari mereka memang tidak menyukai bidang itu.


Tentunya ada banyak alasan mengapa sebagian wanita tidak suka memasak, mulai dari ketidakmampuannya di bidang tersebut, lebih baik mengerjakan hal lain yang lebih produktif, kesetaraan gender, bahkan hingga tidak adanya aturan yang tertuang dalam Al Quran dan hadist mengenai perkara tersebut. Mengenai alasan ini, tak perlulah kita memperdebatkan karena bukan itu tujuan dibuatnya tulisan ini. Dulu sebelum menikah, kemampuan memasak tak menjadi kriteriaku dalam mencari istri. Tapi jika ditanya tentang harapan, tentunya memiliki istri yang bisa memasak adalah harapan kebanyakan pria pada umumnya.


Keahlian dalam memasak bagiku adalah pembeda yang unik, ia adalah salah satu magnet yang mendekatkan seorang suami dengan rumahnya. Meskipun ia menemukan banyak makanan yang terlihat enak di luar, ia tetap akan lebih menyukai masakan yang ada di rumah. Karena ia mengetahui siapa yang memasaknya, mengetahui akan kebersihannya dan mengetahui dengan uang apa itu semua dibeli. Wanita yang mampu memasak jika telah berkeluarga maka ia akan menjadi perekat di keluarganya, ia menjadi faktor yang membahagiakan suami dan anak-anak melalui masakan yang dibuat. Dengan masakan tersebut, keluarga dapat bercengkrama bersama menikmati hidangan yang disajikan. Saat berkumpul itulah timbul kedekatan-kedekatan di antara anggota-anggota keluarga.


Selain itu, seorang wanita jika bisa memasak maka saat ia berperan sebagai seorang istri, ia akan mampu menghemat pengeluaran keluarga. Tapi jika tidak mampu memasak dan hanya mengandalkan masakan yang dijual di warung, maka itu akan menyebabkan pengeluaran yang besar di keluarga. Mari kita coba hitung, harga satu porsi masakan standar yang dijual di warung berkisar Rp 8000 – Rp. 15.000. Kita ambil harga pertengahan saja: Rp 10.000, maka bayangkan berapa anggaran dana yang dibutuhkan oleh satu keluarga dengan 3 orang anak untuk makan 3 kali dalam 1 hari yaitu 5 x 3 x Rp 10.000 = Rp 150.000 / hari. Dalam sebulan dibutuhkan dana sebesar; Rp 150.000 x 30 hari = Rp. 4.500.000. Hanya untuk makan, angka tersebut termasuk cukup besar bukan? Untuk wanita yang cerdas dan bisa memasak, angka sebesar itu mungkin bisa dibelikan ke berbagai bahan mentah untuk membuat lebih banyak variasi masakan, dan tentu saja untuk jangka waktu yang juga lebih lama.


Memang tidak kita pungkiri bahwa ada banyak keluarga dengan penghasilan yang besar, sehingga jumlah uang 4,5 juta untuk membeli makanan bagi mereka adalah kecil. Bahkan sebagian mampu menyediakan pembantu yang ditugaskan untuk memasak di rumah. Tidak ada yang salah dengan itu, hanya saja bagiku mungkin ada kehangatan yang hilang di meja makan. Ketika masakan yang dibeli atau dimasak pembantu begitu enak, seorang suami atau anak-anak akan berkomentar, “wah masakan si mbok enak banget ya ”. Akan terasa beda jika komentar yang muncul adalah, “wah masakan Ibu enak banget, besok masak lagi ya bu ”. Terasa berbeda bukan? Cinta bisa lebih mekar salah satunya lewat masakan yang dihidangkan.


Lalu apakah kemampuan memasak bagi seorang wanita itu adalah sebuah kerangka sosial yang terbentuk, atau memang kodrat seorang wanita? Terlepas dari itu, bagiku seorang wanita perlu bisa memasak, tidak harus mahir. Asin-asin sedikit tidak apalah, tetap akan masih dipuji oleh seorang suami yang beriman. Tidak sehebat koki pun tak masalah, asal ada kemauan untuk terus belajar. Apalagi di zaman serba canggih, resep masakan apa saja tinggal cari di Google. Jangan pernah putus asa ketika ada gorengan yang hangus, tumisan yang hambar, gulai yang asin dan kehancuran fatal lainnya dalam memasak, itu semua biasa saja. Sungguh tidak ada kata terlambat untuk belajar, apalagi untuk belajar memasak. Belajarlah untuk membedakan mana jahe mana lengkuas, mana merica dan mana ketumbar, supaya tidak menjadi istri yang berguguran di dapur.


Akupun teringat ketika pertama kali istri menghidangkan masakan perdananya padaku, tak banyak ekspektasiku pada saat itu, yang pasti aku sudah mempersiapkan diri untuk menghadirkan ekspresi terbaik ku untuk menghargai dan menyenangkan hatinya. Selepas menyantap hidangan aku memang dibuat cukup kaget, hasilnya diluar ekspektasi. Aku yang tak berharap banyak dari masakan istriku ternyata mendapat hidangan yang nikmat untuk disantap. Alhamdulillah, walau kemampuan memasak tak menjadi kriteriaku dalam memilih istri, Allah hadirkan itu dalam kehidupan ku. Tiap hari aku melihat istri terus berproses dalam melatih kemampuan memasaknya, mulai dari mendata makanan apa yang aku suka dan tidak suka, belajar dari buku-buku resep, google, teman-temannya, hingga berlatih masak dari mama dan ibu mertuanya. Sekarang hingga ia punya daftar varian menu yang bisa aku pilih setiap harinya. Aku pikir nampaknya tak ada yang tak senang diperlakukan seperti ini bukan?. Lebih dari hidangan, masakan adalah bahasa perasaan. Maka cita rasa tak semata hasil olah bumbu dan bahan. Ada rasa di balik rasa. Dan cinta adalah rahasia yang kuat dibalik rasa. :)



3 komentar:

bisnis mengatakan...

artikel yg menarik ..

lowongan kerja mengatakan...

bahagiakan hidup dengan cinta

investasi mengatakan...

tetap semangat